Harga Emas Perhiasan Terus Turun, BPS Catat Deflasi Tiga Bulan Berturut-turut

pemerintahan | 03 Juni 2026 07:54

Harga Emas Perhiasan Terus Turun, BPS Catat Deflasi Tiga Bulan Berturut-turut
Pramuniaga menata emas perhiasan yang dijual di sebuah gerai di Kota Malang. (dok antara)

JAKARTA, PustakaJC.co – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga emas perhiasan mengalami deflasi selama tiga bulan berturut-turut sepanjang Maret hingga Mei 2026. Penurunan harga tersebut sejalan dengan melemahnya harga emas di pasar internasional dalam periode yang sama.

 

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, mengatakan pada Mei 2026 emas perhiasan mengalami deflasi sebesar 2,67 persen dengan andil deflasi 0,06 persen. dilansir dari antaranews.com, Rabu, (3/6/2026).

 

“Komoditas ini telah mengalami deflasi selama tiga bulan berturut-turut sejak Maret hingga Mei 2026,” ujar Pudji di Jakarta, Selasa, (2/6/2026).

 

 

Sebelumnya, emas perhiasan mengalami deflasi sebesar 1,17 persen pada Maret 2026 dan 3,76 persen pada April 2026. Kondisi ini menjadikan emas perhiasan sebagai penyumbang deflasi terdalam pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

 

Pada Mei 2026, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi sebesar 0,74 persen dengan andil deflasi sebesar 0,05 persen.

 

BPS menilai tren penurunan tersebut tidak terlepas dari melemahnya harga emas global yang juga telah turun selama tiga bulan berturut-turut.

 

Di sisi lain, Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026. Kenaikan tersebut mendorong inflasi bulanan atau month to month (mtm) sebesar 0,28 persen.

 

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan tingkat inflasi sebesar 0,39 persen dan andil 0,12 persen.

 

 

Berdasarkan komponennya, inflasi inti tercatat sebesar 0,22 persen dengan andil terbesar mencapai 0,14 persen. Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 0,52 persen dan komponen harga bergejolak naik 0,22 persen.

 

Secara tahunan atau year on year (yoy), inflasi Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen. Angka tersebut berasal dari kenaikan IHK dari 108,07 pada Mei 2025 menjadi 111,40 pada Mei 2026.

 

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan tingkat inflasi 4,94 persen dan andil 1,43 persen.

 

Sementara itu, inflasi inti tercatat sebesar 2,59 persen dengan andil 1,66 persen. Adapun komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 2,07 persen dengan andil 0,40 persen, sedangkan komponen harga bergejolak naik 6,24 persen dengan andil 1,02 persen.

 

Penurunan harga emas perhiasan di tengah inflasi yang masih terkendali menjadi sinyal menarik bagi masyarakat, khususnya yang berencana berinvestasi atau membeli perhiasan emas dalam waktu dekat. (ivan)