SURABAYA, PustakaJC.co - Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mempercepat pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) yang digadang-gadang menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di kawasan selatan Jawa Timur. Tahun ini, Pemprov Jatim mengalokasikan bantuan sekitar Rp19 miliar untuk mempercepat pembebasan lahan proyek JLS di Kabupaten Trenggalek.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bappeda Jawa Timur M. Yasin mengatakan, hingga saat ini pembangunan JLS di Jawa Timur telah mencapai hampir 400 kilometer atau sekitar 60 persen dari total panjang jalur yang mencapai 680 kilometer, membentang dari Pacitan hingga Banyuwangi.
"Yang sudah terbangun hampir 400 kilometer atau sekitar 60 persen. Saat ini juga masih ada sekitar 20 kilometer yang sedang berproses. Sisanya akan terus kami percepat," kata Yasin, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam pembangunan JLS adalah proses pembebasan lahan yang membutuhkan dukungan anggaran cukup besar dari pemerintah daerah.
Kabupaten Trenggalek menjadi salah satu daerah yang masih menghadapi kendala tersebut sehingga Pemprov Jawa Timur turun tangan memberikan bantuan keuangan untuk mempercepat proses pembebasan lahan.
"Tahun ini kami memberikan bantuan sekitar Rp19 miliar untuk pembebasan lahan. Mudah-mudahan percepatan pembangunan Pansela bisa segera terwujud," ujarnya.
Yasin menjelaskan, pembangunan JLS merupakan proyek kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemerintah pusat bertanggung jawab terhadap pembangunan infrastruktur jalan, sedangkan pemerintah daerah bertugas melakukan pembebasan lahan serta menyiapkan berbagai kebutuhan pendukung lainnya.
Pemprov Jawa Timur juga membuka peluang memberikan bantuan serupa kepada daerah lain yang mengalami keterbatasan fiskal dalam mendukung percepatan pembangunan JLS.
"Nanti akan kami evaluasi lagi. Kalau memang ada daerah yang kemampuan fiskalnya belum mampu, kami akan coba memberikan dukungan sesuai kemampuan keuangan daerah," katanya.
Menurut Yasin, keberadaan JLS sangat penting untuk mengurangi kesenjangan pembangunan antara wilayah utara dan selatan Jawa Timur.
Saat ini, kawasan utara masih menjadi penyumbang terbesar perekonomian Jawa Timur dengan kontribusi sekitar 52 persen. Sementara wilayah selatan baru berkontribusi sekitar 20,3 persen terhadap perekonomian provinsi.
Yasin optimistis pembangunan JLS akan membuka akses investasi, mempercepat distribusi logistik, serta mendorong pertumbuhan sektor pariwisata di wilayah selatan Jawa Timur yang dinilai memiliki potensi besar.
Bahkan, menurutnya, potensi wisata di kawasan selatan Jawa Timur tidak kalah dibandingkan Bali apabila didukung infrastruktur jalan yang memadai.
"Potensi wilayah selatan luar biasa, tidak kalah dengan Bali. Kalau akses jalannya selesai, ekonomi akan tumbuh dan kantong-kantong kemiskinan di wilayah selatan juga bisa ditekan," tegasnya.
Dengan percepatan pembangunan JLS, Pemprov Jawa Timur berharap kawasan selatan mampu berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru sekaligus memperkuat konektivitas antarwilayah di Jawa Timur.
(int)