Fenomena Bediding Masih Berlangsung, BMKG  Suhu Dingin di Jawa Timur Bertahan hingga Agustus

pemerintahan | 03 Juli 2026 18:30

Fenomena Bediding Masih Berlangsung, BMKG  Suhu Dingin di Jawa Timur Bertahan hingga Agustus
Dok jatimpemprov

SURABAYA, PustakaJC.co – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena bediding yang menyebabkan suhu udara terasa lebih dingin di sejumlah wilayah Jawa Timur masih akan berlangsung hingga Agustus 2026, seiring berlangsungnya musim kemarau.

 

Prakirawan BMKG Juanda Surabaya, Trya Chandra, menjelaskan fenomena bediding merupakan kondisi alam yang normal dan rutin terjadi setiap musim kemarau, khususnya pada periode Juni hingga Agustus.

 

"Fenomena bediding ini normal terjadi dan bukan merupakan peristiwa anomali," ujar Trya.

 

Menurutnya, bediding dipicu oleh bertiupnya angin muson timuran dari Australia yang membawa massa udara dingin dan kering. Kondisi tersebut diperkuat dengan minimnya tutupan awan sehingga panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer pada malam hingga dini hari.

 

 

BMKG mencatat suhu udara pada malam hingga menjelang pagi di wilayah dataran rendah Jawa Timur dapat berada pada kisaran 18 hingga 22 derajat Celsius, sedangkan di kawasan dataran tinggi dapat turun hingga 15–18 derajat Celsius, bahkan berpotensi lebih rendah tergantung kondisi cuaca dan karakteristik wilayah.

 

Penurunan suhu ini mulai dirasakan masyarakat di berbagai daerah, termasuk Kota Surabaya. Sejumlah warga mengaku udara dini hari terasa lebih dingin dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, bahkan suhu air saat mandi ikut terasa lebih menusuk.

 

BMKG menjelaskan sensasi air yang terasa lebih dingin bukan disebabkan oleh perubahan suhu air secara signifikan, melainkan akibat suhu udara yang rendah dan kelembapan yang menurun sehingga tubuh lebih cepat kehilangan panas.

 

"Perbedaan suhu antara tubuh dan air menjadi lebih besar sehingga air terasa lebih dingin saat digunakan," jelas Trya.

 

 

Selain membuat udara lebih sejuk, fenomena bediding juga berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), flu, dan batuk, terutama bagi kelompok rentan.

 

Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat menggunakan pakaian hangat saat pagi dan malam hari, menjaga daya tahan tubuh melalui pola makan bergizi, istirahat yang cukup, serta rutin berolahraga.

 

Di sisi lain, petani di kawasan dataran tinggi juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya embun beku (frost) yang dapat merusak tanaman hortikultura apabila suhu turun secara ekstrem.

 

 

BMKG mengingatkan masyarakat untuk terus memantau informasi prakiraan cuaca terbaru sebagai acuan dalam beraktivitas selama musim kemarau berlangsung.

 

Fenomena bediding diperkirakan akan mulai berangsur berkurang setelah musim kemarau memasuki fase akhir dan kondisi atmosfer kembali mengalami perubahan menjelang musim hujan.

(int)