MBG Libur Sebulan, Puluhan Pekerja Dapur Menganggur, Harga Pangan di Jatim Ikut Terjun

pemerintahan | 06 Juli 2026 07:01

MBG Libur Sebulan, Puluhan Pekerja Dapur Menganggur, Harga Pangan di Jatim Ikut Terjun
Petugas dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kepatihan, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang saat mengantarkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) ke sekolah Selasa, (2/9/2025) lalu. (dok tribun)

SURABAYA, PustakaJC.co – Penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah memunculkan efek domino di Jawa Timur. Tak hanya puluhan pekerja dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang kehilangan penghasilan, harga sejumlah komoditas pangan seperti sayur dan ayam potong juga mengalami penurunan akibat berkurangnya permintaan.

 

Program MBG yang selama ini menjadi penopang pemenuhan gizi siswa ternyata juga telah membentuk mata rantai ekonomi baru. Saat operasional dapur SPPG berhenti selama libur sekolah, dampaknya langsung dirasakan oleh pekerja, petani, peternak hingga pedagang bahan pangan. Dilansir dari tribunnews.com, Senin, (6/7/2026).

 

Di Kota Surabaya, sekitar 50 pekerja di salah satu SPPG terpaksa dirumahkan sementara karena seluruh aktivitas memasak dan distribusi makanan dihentikan. Hanya petugas keamanan yang tetap berjaga selama masa libur.

 

Salah seorang pekerja SPPG Kecamatan Wonocolo, Satria (28), mengaku kini harus mencari pekerjaan lain demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

 

“Sementara kesibukan sebagai pekerja serabutan bagian masak makanan,” ujarnya.

 

 

 

 

Satria mengatakan dirinya baru bergabung sebagai anggota tim juru masak sejak Februari 2026. Selama libur sekolah, dapur MBG tidak beroperasi sehingga seluruh pekerja ikut berhenti bekerja untuk sementara.

 

“Saya di SPPG bekerja sebagai anggota tim juru masak. Baru kerja sejak Februari 2026, libur sekolah satu bulan harus tetap cari pemasukan,” katanya.

 

Meski harus kehilangan pemasukan sementara, Satria mengaku tetap nyaman bekerja di SPPG karena suasana kerja yang kompak dan penuh kebersamaan.

 

“Susah senang bareng, tim kompak. Berbeda dengan pekerjaan saya sebelumnya sebagai buruh pabrik,” ungkapnya.

 

 

 

Ia berharap pemerintah dapat mencari solusi agar operasional SPPG tetap berjalan atau ada skema lain yang mampu menjaga keberlangsungan pendapatan para pekerja selama masa libur sekolah.

 

Tidak hanya sektor ketenagakerjaan, penghentian sementara MBG juga berdampak pada pasar pangan. Berkurangnya aktivitas dapur MBG menyebabkan permintaan bahan baku menurun sehingga harga sejumlah komoditas di beberapa daerah ikut terkoreksi.

 

Di Kabupaten Blitar, harga berbagai jenis sayuran dilaporkan turun karena berkurangnya pembelian dari dapur SPPG. Sementara di Madiun, harga ayam potong juga mengalami penurunan akibat lesunya permintaan selama program MBG tidak berjalan.

 

 

 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Program MBG kini tidak hanya berperan dalam meningkatkan gizi anak sekolah, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal yang melibatkan banyak pelaku usaha, mulai dari petani, peternak, pedagang hingga tenaga kerja di dapur SPPG.

 

Liburnya Program MBG selama satu bulan menjadi pengingat bahwa keberadaan program ini telah menciptakan ekosistem ekonomi baru di berbagai daerah. Ketika program berhenti sementara, dampaknya tidak hanya dirasakan siswa penerima manfaat, tetapi juga ribuan pelaku ekonomi yang bergantung pada rantai pasok dan operasional MBG. (ivan)