Sebelas Event Jawa Timur Masuk KEN 2026 Perkuat Posisi Sebagai Provinsi Event

pemerintahan | 09 Juli 2026 18:09

Sebelas Event Jawa Timur Masuk KEN 2026 Perkuat Posisi Sebagai Provinsi Event
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Evy Afianasari.

SURABAYA, PustakaJC.co – Jawa Timur kembali menegaskan posisinya sebagai provinsi dengan jumlah event terbanyak yang masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Sebanyak 11 event unggulan dari berbagai daerah di Jawa Timur berhasil lolos kurasi program nasional yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata tersebut.

 

Sebelas event yang masuk KEN 2026 meliputi Festival Rujak Uleg Surabaya, Surabaya Vaganza, Festival Nasional Reog Ponorogo, Segoro Topeng Kaliwungu Lumajang, Festival Ronthek Pacitan, Banyuwangi Ethno Carnival, Jember Fashion Carnaval, Tong Tong Night Market Kota Malang, Festival Jaranan Trenggalek Terbuka, Festival Musik Tong Tong Sumenep, dan Gandrung Sewu Banyuwangi.

 

Dari jumlah tersebut, dua event unggulan Jawa Timur berhasil menembus kategori Top KEN 2026, yakni Festival Nasional Reog Ponorogo dan Jember Fashion Carnaval (JFC).

 

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Evy Afianasari menyampaikan apresiasinya terhadap pemerintah kabupaten/kota yang terus mengembangkan potensi daerah melalui penyelenggaraan event berkualitas.

 

“Alhamdulillah Jawa Timur 2026 masih mempunyai event terbanyak yang masuk di Karisma Event Nusantara. Kami melihat teman-teman di kabupaten/kota sudah mulai menyadari potensinya masing-masing, khususnya bahwa event bisa menjadi salah satu daya tarik wisata wisatawan nusantara maupun mancanegara,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Evy Afianasari, kepada jurnalis PustakaJC.co, Kamis, (9/7/2026).

 

 

tarian Reog Ponorogo saat mengikuti Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) di Alun-alun Ponorogo, Jawa Timur. 

 

Menurut Evy, keberhasilan Festival Nasional Reog Ponorogo masuk kategori unggulan tidak terlepas dari posisi Reog sebagai warisan budaya takbenda dunia yang telah ditetapkan UNESCO. Festival tersebut kini tidak hanya diikuti kelompok Reog dari Jawa Timur, tetapi juga komunitas Reog dari berbagai daerah di Indonesia.

 

“Festival Nasional Reog Ponorogo sudah level nasional. Keberadaan kelompok Reog tidak hanya ada di Jawa Timur, tetapi juga tersebar di seluruh Indonesia bahkan beberapa negara seperti Jepang, Australia, dan Korea. Ke depan kami sedang memikirkan bagaimana festival ini bisa berkembang ke level internasional,” katanya.

 

Sementara itu, Jember Fashion Carnaval dinilai telah memiliki reputasi internasional dan menjadi salah satu ikon karnaval Indonesia yang dikenal luas oleh komunitas kreatif dunia.

 

“Jember Fashion Carnaval ini adalah barometer event karnaval yang ada di Indonesia. Banyak fotografer internasional yang sudah mengenal dan mempromosikan event ini. Bahkan pada 2024, JFC menjadi salah satu event karnaval terbaik di dunia,” ujar Evy.

 

 

 

Peserta World Kids Carnival (WKC) mengikuti parade dalam rangkaian Jember Fashion Carnaval (JFC), salah satu event unggulan Jawa Timur yang masuk Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, di Jember, Jawa Timur. 

Keberadaan event berskala nasional dan internasional tersebut juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi daerah. Berdasarkan data yang dihimpun Disbudpar Jatim, Jember Fashion Carnaval pada 2025 mencatat perputaran ekonomi sekitar Rp60 miliar, sedangkan Festival Nasional Reog Ponorogo menghasilkan dampak ekonomi sekitar Rp18 miliar.

 

Tak hanya itu, penyelenggaraan event juga berdampak pada peningkatan aktivitas usaha masyarakat. Pada pelaksanaan Jember Fashion Carnaval, tercatat sekitar 4.000 pelaku UMKM turut terlibat dalam berbagai aktivitas ekonomi yang mendukung penyelenggaraan acara.

 

“Ini luar biasa. Event bukan hanya menjadi tontonan, tetapi mampu menggerakkan ekonomi masyarakat, UMKM, hingga sektor jasa lainnya,” katanya.

 

Evy menjelaskan, meningkatnya skala event juga mendorong pertumbuhan sektor akomodasi dan perhotelan. Kebutuhan tempat menginap bagi wisatawan dan peserta kegiatan menjadi salah satu faktor penting yang harus disiapkan daerah penyelenggara.

 

Menurutnya, penyelenggaraan event juga berdampak pada peningkatan lama tinggal wisatawan. Karena itu, Disbudpar Jatim mendorong agar event tidak hanya berlangsung satu hari, melainkan dikembangkan menjadi rangkaian kegiatan selama beberapa hari.

 

“Kami terus mendorong agar event dibuat minimal tiga hari. Dengan begitu wisatawan bisa tinggal lebih lama, menikmati destinasi wisata lain, dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat setempat,” ujarnya.

 

 

Selain memperkuat event budaya, Disbudpar Jatim juga terus mengembangkan konsep sport tourism yang terintegrasi dengan destinasi wisata alam dan budaya. Penyelenggara event didorong untuk melibatkan desa wisata, komunitas seni, serta potensi lokal yang berada di sekitar lokasi kegiatan.

 

“Kami ingin wisatawan yang datang tidak hanya mengikuti event, tetapi juga mengenal desa wisata, budaya lokal, dan destinasi lain yang ada di Jawa Timur,” kata Evy.

 

Sebagai provinsi yang mendeklarasikan diri sebagai provinsi event, Pemprov Jawa Timur terus memperkuat dukungan terhadap penyelenggara melalui pendampingan perizinan, penguatan kelembagaan, hingga kolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan aparat keamanan.

 

“Kami akan terus mendampingi proses perizinan agar penyelenggara tidak mengalami kesulitan. Ini menjadi faktor yang sangat penting dalam penyelenggaraan event,” tukas Kadisbudpar Jatim itu.

 

 

 

Selain itu, Disbudpar Jatim juga tengah mendampingi berbagai event kreatif baru yang dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang. Salah satunya adalah Mocofest, ajang pameran motor custom yang menjadi wadah kreativitas para pelaku industri modifikasi kendaraan di Jawa Timur.

 

Evy menuturkan penyelenggaraan Mocofest telah memberikan dampak positif terhadap pelaku usaha lokal. Beberapa bengkel modifikasi bahkan mulai menerima pesanan dari luar Jawa Timur setelah mengikuti kegiatan tersebut.

 

Di sisi lain, Disbudpar Jatim juga memberikan perhatian terhadap penguatan event berbasis komunitas seperti Gledekan yang digagas anak-anak muda lokal. Penguatan dilakukan melalui pendampingan perizinan, kelembagaan, hingga aspek keamanan guna menciptakan iklim pariwisata yang aman dan nyaman.

 

Melalui penguatan event budaya, sport tourism, dan ekonomi kreatif, Pemerintah Provinsi Jawa Timur optimistis sektor pariwisata akan semakin berkembang serta mampu meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara di masa mendatang.

 

Versi ini sudah memasukkan seluruh 11 event KEN 2026 serta data dampak ekonomi yang relevan, tetapi semua pernyataan dan kutipan tetap bersumber dari Evy Afianasari sebagai narasumber utama. (ivan)