BANYUWANGI, PustakaJC.co – Pengalihan rute penyeberangan Ketapang-Lembar ke Pelabuhan Jangkar, Situbondo, dinilai menimbulkan dampak bagi pelaku transportasi logistik. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur Nyono menyebut perubahan jalur tersebut membuat sebagian sopir harus menempuh perjalanan darat yang lebih panjang dibandingkan saat rute Ketapang-Lembar masih beroperasi.
Hal itu disampaikan Nyono usai mengikuti rapat koordinasi yang dihadiri Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono, Ketua Umum DPP Gapasdap Khoiri Soetomo, pihak ASDP, TNI-Polri, serta perwakilan sopir logistik di Kantor ASDP Ketapang, Banyuwangi, Sabtu, (11/7/2026).
Dalam forum tersebut, Nyono mengaku baru mengetahui bahwa layanan penyeberangan Ketapang-Lembar telah dihentikan dan seluruh operasionalnya dialihkan ke Pelabuhan Jangkar. Dilansir dari kompas.com, Minggu, (12/7/2026).
“Ketapang-Lembar saya enggak tahu kalau itu dihentikan. Kami beranggapan bahwa Ketapang-Lembar itu masih aktif. Ternyata dihentikan, diganti Jangkar-Lembar,” kata Nyono.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam rapat, sekitar 80 persen arus logistik yang menuju atau berasal dari Lembar memiliki tujuan akhir wilayah selatan Jawa Timur, terutama kawasan Jember dan sekitarnya. Kondisi tersebut membuat pengalihan ke Jangkar dinilai kurang efektif bagi sebagian pengemudi angkutan barang.
Menurut Nyono, para sopir lebih memilih akses melalui Banyuwangi karena lebih dekat dengan jalur distribusi menuju wilayah selatan Jawa Timur. Jika harus melalui Situbondo, mereka perlu menambah jarak tempuh perjalanan darat sebelum mencapai tujuan.
“Mereka enggak mau ke arah Situbondo karena terlalu jauh daratnya. Lebih dekat ke arah Banyuwangi langsung ke arah selatan, tembus Jember,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Pelabuhan Jangkar sebenarnya lebih cocok melayani distribusi logistik yang mengarah ke wilayah utara Jawa Timur seperti Probolinggo, Pasuruan, Malang hingga Surabaya. Karena itu, keberadaan pelabuhan tersebut sejak awal dirancang sebagai pendukung layanan penyeberangan, bukan pengganti jalur Ketapang-Lembar.
“Memang Jangkar fungsinya tidak menggantikan Ketapang-Lembar. Hanya untuk men-support, membantu ketika Ketapang-Lembar ini penuh,” tegas Nyono.
Selain melayani penyeberangan ke Lombok, Pelabuhan Jangkar juga diproyeksikan menjadi pusat konektivitas transportasi laut menuju sejumlah wilayah kepulauan di Madura, seperti Kangean, Raas, Sapudi, dan Kalianget.
Nyono menambahkan, penghentian rute Ketapang-Lembar merupakan kebijakan Pemerintah Pusat dan tidak melibatkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam proses pengambilan keputusan.
“Itu keputusan Pusat, bukan Pemprov. Enggak ada kaitannya sama Pemprov,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan apabila rute Ketapang-Lembar kembali dioperasikan, maka Rencana Pola Trayek (RPT) penyeberangan dari Pelabuhan Tanjung Wangi menuju Gili Mas akan dihentikan. Menurutnya, RPT tersebut hanya bersifat sementara sebagai uji pasar dengan masa berlaku maksimal enam bulan.
“Harusnya begitu. Dan Jangkar-Lembar hanya untuk men-support kepadatan di Ketapang-Lembar,” tandasnya. (ivan)