Berdasarkan data yang dipaparkan dalam rapat, sekitar 80 persen arus logistik yang menuju atau berasal dari Lembar memiliki tujuan akhir wilayah selatan Jawa Timur, terutama kawasan Jember dan sekitarnya. Kondisi tersebut membuat pengalihan ke Jangkar dinilai kurang efektif bagi sebagian pengemudi angkutan barang.
Menurut Nyono, para sopir lebih memilih akses melalui Banyuwangi karena lebih dekat dengan jalur distribusi menuju wilayah selatan Jawa Timur. Jika harus melalui Situbondo, mereka perlu menambah jarak tempuh perjalanan darat sebelum mencapai tujuan.
“Mereka enggak mau ke arah Situbondo karena terlalu jauh daratnya. Lebih dekat ke arah Banyuwangi langsung ke arah selatan, tembus Jember,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Pelabuhan Jangkar sebenarnya lebih cocok melayani distribusi logistik yang mengarah ke wilayah utara Jawa Timur seperti Probolinggo, Pasuruan, Malang hingga Surabaya. Karena itu, keberadaan pelabuhan tersebut sejak awal dirancang sebagai pendukung layanan penyeberangan, bukan pengganti jalur Ketapang-Lembar.
“Memang Jangkar fungsinya tidak menggantikan Ketapang-Lembar. Hanya untuk men-support, membantu ketika Ketapang-Lembar ini penuh,” tegas Nyono.