Emil menilai evaluasi porsi makanan tidak boleh mengurangi standar gizi yang telah ditetapkan. Justru, penyesuaian perlu dilakukan agar jumlah nasi, lauk, sayur, maupun komponen lainnya lebih proporsional dengan kebutuhan peserta didik.
“Sekarang sebenarnya keseimbangan gizi juga penting. Kebanyakan, tapi juga harus berbanding dengan lauk supaya proporsional. Nah, ini tentu bisa menjadi ruang pembenahan,” katanya.
Ia mengakui dari video yang beredar terlihat jumlah sisa makanan cukup signifikan. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi BGN untuk memastikan Program MBG berjalan lebih efektif dan mampu menekan potensi pemborosan pangan.
“Kelihatannya jumlah sisa makanan cukup signifikan, ini menjadi PR bagi BGN untuk memastikan tidak terjadi food loss. Meskipun makanan sisa bisa diolah, idealnya kalau bisa lebih tepat porsi dan tepat saji lagi,” ucapnya.
Sebelumnya, video yang memperlihatkan sejumlah siswa menuangkan sisa makanan Program MBG ke sebuah gerobak di MTsN 4 Bondowoso viral di media sosial. Pihak sekolah kemudian memberikan klarifikasi bahwa makanan tersebut bukan dibuang, melainkan sisa makanan yang dikumpulkan untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Kasus tersebut menjadi perhatian berbagai pihak karena Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program strategis nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia. Emil berharap evaluasi yang dilakukan BGN dapat menghasilkan penyempurnaan pelaksanaan program, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara optimal sekaligus meminimalkan terjadinya sisa makanan. (ivan)