Distan Jatim Bantah Harga Cabai Rawit Rp95 Ribu per Kg, Siskaperbapo Catat Rata-rata Hanya Rp38 Ribu

pemerintahan | 24 Juli 2026 15:12

Distan Jatim Bantah Harga Cabai Rawit Rp95 Ribu per Kg, Siskaperbapo Catat Rata-rata Hanya Rp38 Ribu
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Heru Suseno (dok antara)

SURABAYA, PustakaJC.co – Kabar mengenai harga cabai rawit merah yang disebut menembus Rp95.000 per kilogram di tingkat eceran nasional mendapat tanggapan dari Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur. Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur, Heru Suseno , menegaskan bahwa kondisi pasar di Jawa Timur masih relatif stabil dan jauh dari angka tersebut.

 

Sebelumnya, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia mencatat harga cabai rawit merah secara nasional mencapai Rp95.000 per kilogram. Data tersebut kemudian menjadi perhatian karena dinilai berpotensi menambah beban masyarakat di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok.

 

Namun, Heru menjelaskan bahwa berdasarkan Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur, harga cabai rawit merah di pasar tradisional seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur pada Jumat (24/7/2026) rata-rata berada di kisaran Rp38.305 per kilogram.

 

“Dapat info harga cabai Rp95 ribu itu sumbernya dari mana ya? Untuk di pasar rata-rata Rp38.305 per kilogram. Bisa dicek di Siskaperbapo, sistem yang update setiap hari dengan sumber data dari pasar tradisional di kabupaten dan kota se-Jawa Timur,” ujar Heru kepada PustakaJC.co dalam wawancara tertulis via platform whatsapp, Jumat (24/7/2026). 

 

Menurut Heru, harga tersebut masih berada dalam kategori normal dan belum menunjukkan gejolak yang mengkhawatirkan. Bahkan, data lapangan yang dihimpun dari sentra produksi cabai di Jawa Timur menunjukkan harga di tingkat petani dan pasar induk jauh lebih rendah dibanding angka yang beredar secara nasional.

 

“Kalau Rp38 ribuan, masih harga normal dan stabil,” tegasnya.

 

Sebagai pembanding, Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) Kabupaten Kediri melalui laporan harga di Pasar Induk Pare tanggal 23 Juli 2026 mencatat harga cabai rawit merah varietas unggulan hanya berada pada kisaran Rp24.000 hingga Rp32.000 per kilogram.

 

Data APCI menunjukkan varietas Brengos 99 dijual Rp32.000 per kilogram, Asmoro 043 Rp30.000 per kilogram, sementara varietas Phental Tumi 99 dan Juwita 25 F1 masing-masing Rp24.000 per kilogram.

 

Tidak hanya itu, pasokan cabai rawit merah yang masuk ke Pasar Induk Pare tercatat mencapai 11 ton per hari. Meski masih di bawah kondisi normal yang mencapai 35 ton, pasokan tersebut dinilai cukup untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani.

 

“Ini data dari Asosiasi Petani Cabai di Pasar Induk Pare Kediri, jadi tidak ada harga cabai yang sampai Rp95 ribu. Cabai dengan varietas yang paling bagus saja cuma Rp32 ribu,” jelas Heru.

 

Perbedaan data antara PIHPS Nasional dan kondisi riil di Jawa Timur menunjukkan adanya disparitas harga antarwilayah yang cukup lebar. Jawa Timur sebagai salah satu sentra produksi cabai nasional memiliki karakteristik pasokan yang berbeda dibanding daerah konsumen yang bergantung pada distribusi dari luar wilayah.

 

Pengamat sektor pangan menilai, angka harga nasional tidak selalu mencerminkan kondisi di setiap daerah. Harga yang tinggi di beberapa wilayah Indonesia dapat mendorong rata-rata nasional naik, sementara daerah sentra produksi seperti Jawa Timur justru masih menikmati pasokan yang relatif aman.

 

Meski demikian, Heru memastikan Dinas Pertanian Jawa Timur terus memantau perkembangan produksi dan distribusi cabai untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga menjelang perubahan musim maupun peningkatan permintaan masyarakat.

 

“Monitoring produksi, pasokan, dan harga terus kami lakukan bersama pemerintah kabupaten/kota serta kelompok tani agar stabilitas pasokan tetap terjaga,” katanya.

 

Dengan kondisi harga yang masih terkendali dan pasokan dari sentra produksi yang relatif aman, masyarakat Jawa Timur diharapkan tidak perlu khawatir terhadap isu lonjakan harga cabai yang berkembang di tingkat nasional.

(int)