Dishub Jatim Tetapkan Rute Trans Jatim Koridor II Malang Kepanjen Lewat Gondanglegi

pemerintahan | 28 Juli 2026 07:16

Dishub Jatim Tetapkan Rute Trans Jatim Koridor II Malang Kepanjen Lewat Gondanglegi
Dishub Jatim dan Kabupaten Malang melakukan survei titik halte di Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. (dok suryamalang)

MALANG, PustakaJC.co – Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur menetapkan rute Bus Trans Jatim Koridor II yang menghubungkan Kota Malang dan Kepanjen melalui Kecamatan Gondanglegi. Penetapan rute tersebut ditindaklanjuti dengan survei titik halte bersama Dishub Kabupaten Malang sebagai persiapan operasional layanan yang ditargetkan mulai Oktober 2026.

 

Kepala Bidang Angkutan Jalan Dishub Provinsi Jawa Timur, Ainur Rofiq, menjelaskan rute Hamid Rusdi–Gondanglegi–Talangagung dipilih setelah melalui sejumlah pertimbangan. Dari tiga alternatif yang sebelumnya diusulkan Dishub Kabupaten Malang, rute tersebut dinilai paling siap karena mendapat dukungan pemerintah daerah, termasuk penyediaan fasilitas halte. Dilansir dari tribunnews.com, Selasa, (28/7/2026).

 

Selain itu, tingginya kebutuhan masyarakat Gondanglegi terhadap angkutan umum menjadi alasan utama penetapan rute tersebut. Menurutnya, kawasan itu memiliki potensi penumpang yang besar, namun belum didukung layanan transportasi umum yang memadai.

 

“Trans Jatim ini kan Buy The Service (BTS), jadi bus ini ada atau tidak adanya penumpang tetap jalan. Dari sini harus ada kepastian layanan, kalau sudah ada kepastian, maka otomatis masyarakat akan terbantu dengan keberadaan Trans Jatim,” ujar Ainur Rofiq.

 

 

Sebagai bagian dari persiapan operasional, Dishub Jatim bersama Dishub Kabupaten Malang melakukan survei sekitar 40 titik halte di sepanjang rute Terminal Hamid Rusdi–Bululawang–Gondanglegi–Terminal Talangagung. Titik tersebut terdiri atas 20 halte menuju Kota Malang dan 20 halte menuju Talangagung.

 

Survei dilakukan untuk memastikan lokasi halte benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Jika ditemukan titik yang terlalu berdekatan atau tidak memiliki ruang yang memadai, lokasi halte akan disesuaikan agar tidak mengganggu waktu tempuh bus.

 

“Kalau tidak sesuai, kita geser. Jadi rencana kita penitikan itu sebenarnya banyak, tapi kadang-kadang space-nya kurang. Apa terlalu berdekatan, itu juga kita akan bergeser lagi. Kan kalau titik-titik berdekatan, itu nanti mempengaruhi waktu tempuh Trans Jatim,” katanya.

 

Ainur menambahkan, penempatan halte tidak ditentukan berdasarkan jarak tertentu, melainkan mengacu pada lokasi yang memiliki potensi mobilitas masyarakat tinggi, seperti pasar, sekolah, pondok pesantren, hingga persimpangan desa.

 

 

Beberapa titik yang disurvei di antaranya berada di depan SMP NU dan Balai Desa Gondanglegi Kulon. Setelah survei selesai, Dishub Jatim akan melakukan evaluasi selama sekitar satu pekan untuk menampung masukan maupun keberatan dari masyarakat terkait lokasi halte.

 

“Misalkan titiknya jangan di sini, agak sebelah atau digeser ke kanan atau ke kiri, pasti ada itu. Evaluasi akan dilakukan satu minggu setelah ini,” tuturnya.

 

Survei berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Hingga pukul 14.30 WIB, tim telah menyelesaikan peninjauan 20 titik halte di wilayah Desa Gondanglegi Kulon sebelum melanjutkan survei menuju Terminal Talangagung. (ivan)