SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo dengan menambah satu armada helikopter water bombing. Penambahan armada dilakukan untuk mempercepat pemadaman setelah kebakaran berlangsung selama delapan hari.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono mengatakan, tambahan helikopter tersebut disewa Pemprov Jatim setelah dilakukan pemantauan udara dan evaluasi terhadap sejumlah titik yang masih berpotensi memicu kebakaran. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Selasa, (11/8/2026).
“Yang tadinya dari BNPB ada dua pesawat, satu Super Puma dan satu helikopter Airbus, kemudian Pemerintah Provinsi menambahkan dengan menyewa satu helikopter Airbus,” kata Adhy saat ditemui di Gedung DPRD Jatim, Senin, (10/8/2026).
Menurut Adhy, dua helikopter Airbus yang sebelumnya berada di Lanud Abdulrachman Saleh kini ditempatkan di kawasan Ranu Pani. Penempatan tersebut dilakukan agar proses pengisian bahan bakar lebih cepat sehingga frekuensi water bombing dapat ditingkatkan.
“Sehingga ini akan mempercepat dan meningkatkan frekuensi water bombing itu. Yang tadinya harus ke Abdulrachman Saleh, ketika ada cuaca kurang bagus tidak bisa terbang, sekarang tidak ada kendala itu,” ujarnya.
Adhy mengatakan, operasi water bombing akan terus dilakukan selama kondisi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memungkinkan. Pemadaman dari udara akan dilakukan terutama apabila masih ditemukan kepulan asap maupun titik api.
Selain menggunakan helikopter, penanganan kebakaran juga diperkuat dari darat. Pemprov Jatim mengerahkan armada pemadam kebakaran dari sejumlah daerah, di antaranya Surabaya, Probolinggo, dan Pasuruan.
“Untuk water bombing, walaupun tidak ada api pun, kita lakukan pembasahan supaya tidak terjadi lagi pemicu kebakaran,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim Evy Afianasari mengatakan, kebakaran di kawasan Bromo menjadi catatan penting bagi pemerintah untuk memperkuat penanganan pada tahap awal.
Menurut Evy, kondisi angin yang kencang menjadi salah satu faktor yang membuat proses pemadaman lebih sulit dan menyebabkan api cepat menyebar.
“Yang jelas kalau Bromo harusnya yang perlu kita waspadai dan kita tingkatkan adalah penanganan awal. Jadi ini sudah merupakan catatan, bahwa jika penanganan awal tidak terlambat mungkin tidak meluas,” kata Evy.
Evy menyebut pemerintah masih menghitung dampak kebakaran terhadap industri pariwisata. Namun, angka kerugian belum dapat disampaikan karena pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih berfokus pada proses pemadaman.
“Memang pastinya ada kerugian dari industri pariwisata. Untuk perhitungannya berapa, kami masih dalam tahap perhitungan karena pihak TNBTS pun masih belum mau klarifikasi atau konfirmasi terkait hal itu,” ujarnya.
Ia juga mengimbau wisatawan untuk sementara menghindari kawasan Bromo demi keselamatan. Seluruh akses wisata di kawasan tersebut masih ditutup akibat kebakaran.
Untuk jangka panjang, Evy mengatakan diperlukan pemulihan kawasan sekaligus penguatan upaya pencegahan kebakaran. Salah satu langkah yang akan diusulkan adalah memperketat larangan membawa rokok, termasuk rokok elektronik, ke kawasan wisata alam yang memiliki potensi kebakaran.
“Ke depan kami akan memberlakukan hal-hal seperti itu, khususnya di wisata-wisata alam yang kecenderungan bisa menyebabkan kebakaran seperti ini,” pungkasnya. (ivan)