SURABAYA, PustakaJC.co — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Gunung Arjuno-Welirang, Jawa Timur, kini menyisakan satu titik api. Upaya pemadaman masih dilakukan, namun kondisi cuaca menjadi salah satu kendala di lapangan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengatakan titik api yang tersisa berada di area Lapangan Kota, kawasan Arjuno-Welirang. Dilansir dari kompas.com, Sabtu, (22/8/2026).
“Satu titik itu berada di area Lapangan Kota di daerah Arjuno-Welirang,” kata Gatot, Kamis, (20/8/2026).
Menurut Gatot, proses pembasahan di lokasi tersebut harus dilakukan secara maksimal untuk memastikan api benar-benar padam. Apabila pembasahan dari udara belum optimal, petugas BPBD Jatim akan kembali diarahkan menuju titik yang berada di kawasan Tahura Raden Soerjo.
BPBD Jatim juga menyiapkan kembali operasi water bombing menggunakan helikopter untuk membantu proses pemadaman maupun pembasahan di kawasan terdampak.
Namun, operasi udara tersebut menghadapi tantangan berupa perubahan cuaca yang cepat. Angin kencang dan kabut yang datang lebih cepat membuat proses pemadaman dari udara tidak dapat berjalan optimal.
“Kemarin sudah dilakukan operasi di area Arjuno, tetapi kesulitannya karena ada perubahan cuaca yang mendadak, karena ada banyak angin, dan juga ada tambahan dari kabut yang lebih cepat datangnya,” ujar Gatot.
Helikopter BPBD Jatim sebelumnya disiagakan di kawasan Kaliandra Resort, Pasuruan. Lokasi tersebut digunakan sebagai titik pengambilan air untuk mendukung operasi water bombing.
Helikopter sempat melakukan water bombing selama sekitar satu jam. Setelah itu, pada sore hari helikopter harus kembali ke Bandara Abdulrachman Saleh, Malang, untuk melakukan pengisian bahan bakar.
Gatot mengatakan penggunaan satu titik sumber air di Kaliandra dinilai belum cukup untuk mendukung operasi secara maksimal. Karena itu, BPBD Jatim menyiapkan sejumlah alternatif titik pengambilan air untuk mendukung operasi berikutnya.
“Nanti kita lakukan bombing kembali, tetapi titik airnya akan kita tambahkan di beberapa tempat karena menghitung jumlah air di Kaliandra tadi kurang maksimal,” jelasnya.
Selain pemadaman dari udara, petugas juga terus memantau kondisi titik api yang tersisa. Jika kondisi memungkinkan, water bombing akan kembali dilakukan untuk memastikan kawasan yang terbakar telah mengalami pembasahan secara menyeluruh.
Sementara itu, penyebab kebakaran di kawasan Gunung Arjuno-Welirang hingga kini belum dapat dipastikan. Lokasi titik api yang berada cukup jauh menjadi salah satu kendala dalam melakukan pemeriksaan secara langsung.
Gatot mengatakan pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab kebakaran dan tidak ingin berspekulasi sebelum adanya pemeriksaan lebih lanjut.
Meski demikian, ia menyebut sebagian besar kejadian kebakaran hutan selama ini berkaitan dengan aktivitas manusia, baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak disengaja.
Di sisi lain, luasan kawasan yang terdampak kebakaran juga belum dapat dihitung secara akurat. Kondisi jaringan komunikasi di lokasi yang sulit menjadi kendala dalam proses pemetaan menggunakan drone.
“Kalau dilakukan pemetaan udara, dikhawatirkan dronenya tidak sampai signalnya dan jatuh,” kata Gatot.
BPBD Jatim masih melakukan pemantauan dan penanganan terhadap satu titik api yang tersisa. Upaya pemadaman dan pembasahan akan terus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca serta ketersediaan titik pengambilan air. (ivan)