Khofifah Ungkap Biang Masalah Keracunan MBG di Sidoarjo

pemerintahan | 04 September 2026 07:07

 

Khofifah turut menyampaikan apresiasi kepada rumah sakit, fasilitas kesehatan dan pihak lain yang memberikan penanganan kepada para korban.

 

“Anak-anak yang dirawat juga mudah-mudahan terus sehat, semua rumah sakit yang memberikan penanganan kami menyampaikan terima kasih,” tuturnya.

 

664 Orang Mendapatkan Penanganan Medis

 

Sebelumnya, pada Selasa (1/9/2026), sebanyak 664 orang dilaporkan mendapatkan penanganan medis setelah diduga mengalami keracunan usai menyantap makanan MBG.

 

Korban terbanyak berasal dari Pondok Pesantren Manba’ul Hikam Sidoarjo. Selain itu, terdapat 18 lembaga pendidikan lainnya yang mengalami kejadian serupa.

 

Seluruh satuan pendidikan tersebut diketahui mendapatkan makanan dari SPPG Kali Tengah, Kecamatan Tanggulangin, pada Selasa (1/9/2026).

 

Berdasarkan data per 2 September 2026 pukul 22.00 WIB, sebanyak 664 pasien telah mendapatkan perawatan medis, baik di rumah sakit, fasilitas kesehatan lainnya maupun di pesantren.

 

Dari jumlah tersebut, 77 pasien menjalani perawatan di rumah sakit, 581 pasien menjalani rawat jalan, dan enam pasien masih dalam observasi.

 

Para korban mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan, antara lain RSUD N.T. Notopuro, RS Delta Surya, RSI Siti Hajar, RS Pusura, RSU Aisyiyah St Fatimah, RS Pusdik Bhayangkara, RS Arafah Anwar Medika, RS Anwar Medika, RS Assakinah Medika, PKM Porong, RS Rahman Rahim, Puskesmas Tanggulangin, serta sejumlah praktik bidan, dokter dan fasilitas kesehatan di pesantren.

 

Salah satu orang tua pasien, Priani (43), mengapresiasi perhatian Khofifah terhadap para korban. Putranya, Muhammad Zaidan Maulana, merupakan siswa kelas XII Madrasah Aliyah yang turut mendapatkan perawatan.

 

“Alhamdulillah saya ucapkan terima kasih kepada Ibu Gubernur Khofifah atas perhatiannya terhadap anak-anak yang tertimpa musibah, senanglah kami dapat perhatian dari pemimpin Jawa Timur, mudah-mudahan jangan terulang lagi, ini yang terakhir,” ujar Priani.

 

Kasus tersebut kini menjadi perhatian dalam pelaksanaan program MBG di Sidoarjo. Evaluasi terhadap proses pengolahan dan distribusi makanan diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dan keamanan makanan bagi penerima manfaat tetap terjamin. (ivan)