SIDOARJO, PustakaJC.co – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengungkap persoalan distribusi makanan dalam kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berdampak pada ratusan penerima manfaat di Kabupaten Sidoarjo.
Hal itu disampaikan Khofifah saat menjenguk sejumlah santri yang menjalani perawatan di RSI Siti Hajar Sidoarjo, Kamis, (3/9/2026). Ia mengecek kondisi para pasien sekaligus memastikan mereka mendapatkan penanganan medis.
Khofifah mengatakan seluruh pihak perlu melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG, mulai dari pemilihan bahan makanan, proses pengolahan hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.
“Jadi memang kita harus terus berbenah, semua lini harus melakukan monitoring dan pengawasan sekaligus merekomendasikan tidak hanya kepada BGN tetapi juga kepada SPPG setempat,” ujar Khofifah, dikutip dari jatimpos.co, Jumat, (4/8/2026).
Menurutnya, pengelolaan makanan dalam program MBG membutuhkan pengawasan yang cermat karena terdapat batas waktu aman makanan untuk dikonsumsi. Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam kasus Sidoarjo adalah perbedaan waktu pengiriman makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ke titik penerima manfaat.
“Ini kasusnya dimasak bersama dengan format yang sama. Yang pengirimannya relatif lebih awal itu aman. Tapi yang pengirimannya terlambat ini yang kemudian menjadikan masalah,” katanya.
Khofifah menjelaskan, makanan yang selesai dimasak sekitar pukul 05.00 WIB dan dikirim pukul 07.00 WIB masih dapat dimanfaatkan sesuai waktu konsumsi. Namun, terdapat makanan yang baru dikirim sekitar pukul 11.00 WIB atau lebih dan kemudian dikonsumsi sekitar pukul 12.30 hingga 13.00 WIB.
“Bedanya adalah pada masa pengiriman dari SPPG itu ke titik penerima manfaat,” jelasnya.
Meski demikian, Khofifah menekankan bahwa seluruh proses harus dievaluasi secara menyeluruh untuk memastikan faktor yang menyebabkan kejadian tersebut.
Makanan Berasal dari SPPG yang Sama
Khofifah menyampaikan, para penerima manfaat yang terdampak mendapatkan makanan dari SPPG Kali Tengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.
SPPG tersebut menyalurkan makanan kepada 18 unit penerima manfaat. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Manba’ul Hikam Sidoarjo.
“Saya tanya ada Kadinkes, ada Kakankemenag yang mendapatkan manfaat dari SPPG yang sama itu ada 18 unit, dari 18 unit yang lain relatif semua berjalan baik,” ungkapnya.
Namun, menurut Khofifah, terdapat perbedaan waktu penerimaan makanan di antara sejumlah titik penerima manfaat.
“Tapi kemudian ada yang dikirimnya baru jam 11 atau jam 11 lebih, dan dikonsumsi jam 12.30 sampai jam 1 inilah yang kemudian ditemukan ada masalah,” imbuhnya.
Khofifah menilai kejadian tersebut menjadi momentum bagi semua pihak untuk memperkuat monitoring dan pengawasan pelaksanaan MBG. Menurutnya, tujuan program yang merupakan prioritas nasional tersebut harus tetap diiringi dengan jaminan keamanan pangan.
Program MBG, kata Khofifah, memiliki tujuan strategis untuk meningkatkan kualitas gizi generasi penerus bangsa melalui penyediaan makanan bergizi bagi siswa dan santri.
Karena itu, ia meminta proses pemilihan bahan makanan, pengolahan, distribusi hingga makanan diterima penerima manfaat dilakukan dengan perhitungan yang tepat.
27 Pasien Masih Dirawat
Saat Khofifah melakukan kunjungan, sebanyak 27 pasien masih menjalani perawatan di RSI Siti Hajar Sidoarjo.
Dari jumlah tersebut, 24 pasien dinyatakan dalam kondisi baik dan diperbolehkan pulang. Sementara tiga pasien lainnya masih menjalani observasi oleh dokter dan pihak rumah sakit.
“Dari 27 itu, 24 Insyaallah clear pagi ini bisa pulang, yang 3 nunggu observasi lagi, tapi mudah-mudahan sore juga bisa pulang jadi Insya Allah mereka sudah dalam kondisi baik,” ujar Khofifah.
Khofifah juga sempat berdialog dengan pasien. Sejumlah pasien sebelumnya mengalami keluhan berupa mual dan pusing.
Menurutnya, pasien baru diperbolehkan meninggalkan rumah sakit setelah kondisi mereka dinyatakan baik dan keluhan yang dirasakan sudah tidak ada.
“Saya tanya kepada pasien mual dan pusing sudah tidak ada tapi yang Insya Allah sudah clear bisa pulang pagi ini 24 dari 27 pasien,” katanya.
Khofifah turut menyampaikan apresiasi kepada rumah sakit, fasilitas kesehatan dan pihak lain yang memberikan penanganan kepada para korban.
“Anak-anak yang dirawat juga mudah-mudahan terus sehat, semua rumah sakit yang memberikan penanganan kami menyampaikan terima kasih,” tuturnya.
664 Orang Mendapatkan Penanganan Medis
Sebelumnya, pada Selasa (1/9/2026), sebanyak 664 orang dilaporkan mendapatkan penanganan medis setelah diduga mengalami keracunan usai menyantap makanan MBG.
Korban terbanyak berasal dari Pondok Pesantren Manba’ul Hikam Sidoarjo. Selain itu, terdapat 18 lembaga pendidikan lainnya yang mengalami kejadian serupa.
Seluruh satuan pendidikan tersebut diketahui mendapatkan makanan dari SPPG Kali Tengah, Kecamatan Tanggulangin, pada Selasa (1/9/2026).
Berdasarkan data per 2 September 2026 pukul 22.00 WIB, sebanyak 664 pasien telah mendapatkan perawatan medis, baik di rumah sakit, fasilitas kesehatan lainnya maupun di pesantren.
Dari jumlah tersebut, 77 pasien menjalani perawatan di rumah sakit, 581 pasien menjalani rawat jalan, dan enam pasien masih dalam observasi.
Para korban mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan, antara lain RSUD N.T. Notopuro, RS Delta Surya, RSI Siti Hajar, RS Pusura, RSU Aisyiyah St Fatimah, RS Pusdik Bhayangkara, RS Arafah Anwar Medika, RS Anwar Medika, RS Assakinah Medika, PKM Porong, RS Rahman Rahim, Puskesmas Tanggulangin, serta sejumlah praktik bidan, dokter dan fasilitas kesehatan di pesantren.
Salah satu orang tua pasien, Priani (43), mengapresiasi perhatian Khofifah terhadap para korban. Putranya, Muhammad Zaidan Maulana, merupakan siswa kelas XII Madrasah Aliyah yang turut mendapatkan perawatan.
“Alhamdulillah saya ucapkan terima kasih kepada Ibu Gubernur Khofifah atas perhatiannya terhadap anak-anak yang tertimpa musibah, senanglah kami dapat perhatian dari pemimpin Jawa Timur, mudah-mudahan jangan terulang lagi, ini yang terakhir,” ujar Priani.
Kasus tersebut kini menjadi perhatian dalam pelaksanaan program MBG di Sidoarjo. Evaluasi terhadap proses pengolahan dan distribusi makanan diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dan keamanan makanan bagi penerima manfaat tetap terjamin. (ivan)