SURABAYA, PustakaJC.co - Bagi 1.214 mahasiswa Surabaya yang lolos seleksi Bantuan Biaya Perkuliahan tahun 2026, uang saku bulanan dan subsidi kampus tidak datang tanpa syarat. Pemkot Surabaya menegaskan bahwa penerima bantuan pendidikan ini diwajibkan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat melalui berbagai aktivitas sosial di lapangan.
Para mahasiswa penerima manfaat dituntut terjun langsung dalam program strategis kota. Mulai dari menjadi pengajar dalam program pendampingan belajar Sinau Bareng, penguatan Kampung Pancasila, keterlibatan aktif di Karang Taruna, hingga aksi kemanusiaan seperti donor darah. Dilansir dari surabayapagi.com, Rabu, (9/9/2026).
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, Herry Purwadi, menjelaskan bahwa integrasi antara akademik dan pengabdian sosial merupakan fondasi utama dari penyaluran bantuan ini.
"Kami mendorong mereka untuk aktif dalam kegiatan sosial, baik di lingkungan masyarakat maupun organisasi kampus. Harapannya, setelah menyelesaikan pendidikan, mereka tidak hanya mengantongi gelar, tetapi juga membawa dampak dan memberikan kontribusi kembali untuk Kota Surabaya," tegas Herry di sela proses daftar ulang di Gelanggang Remaja Surabaya, Selasa, (8/9/2026).
Untuk memastikan komitmen tersebut berjalan, Pemkot Surabaya tidak tinggal diam. Aktivitas dan keaktifan para penerima manfaat dipantau secara berkala melalui pendamping khusus yang ditempatkan di setiap perguruan tinggi. Setiap kehadiran dan peran mahasiswa dalam kegiatan kemasyarakatan dicatat sebagai bahan evaluasi keberlanjutan bantuan.
Skema ini melengkapi paket bantuan yang diterima mahasiswa, mencakup subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) maksimal Rp2,5 juta per semester serta uang saku Rp300 ribu per bulan. Melalui pendekatan ini, Pemkot Surabaya menargetkan pencetakan SDM yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang kuat terhadap lingkungan sekitarnya. (ivan)