SURABAYA, PustakaJC.co - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur menegaskan pentingnya penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap bagi seluruh personel gabungan yang beroperasi memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo. Langkah ini diambil untuk
mengantisipasi risiko gangguan kesehatan, khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), akibat paparan asap pekat dan udara kering.
Penegasan tersebut merespons laporan Dokkes Polres Malang terkait sekitar 50 petugas di kawasan Jemplang yang sempat mengeluhkan pusing dan batuk akibat kelelahan serta paparan asap. Meski demikian, pemeriksaan medis awal memastikan belum ada petugas yang terindikasi mengidap ISPA. Dilansir dari kompas.com, Rabu, (16/9/2026).
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menyatakan bahwa secara umum kondisi para petugas di lapangan dalam keadaan stabil dan terkontrol berkat kepatuhan penerapan protokol keselamatan.
"Teman-teman di sana masih baik-baik saja karena memang mereka menggunakan masker semua. Pada saat beroperasi sudah kita sarankan menggunakan APD, minimal masker untuk menghindari terjadinya sesak napas ataupun ISPA," kata Gatot, Selasa, (15/9/2026).
Gatot menambahkan, standar APD yang diterjunkan untuk tim BPBD Jatim meliputi helm pelindung, seragam tahan panas, sarung tangan, hingga sepatu khusus medis/lapangan. Perlindungan pernapasan menjadi krusial mengingat karakter asap karhutla di Bromo bercampur dengan debu dan material udara kering yang sangat rentan memicu iritasi paru-paru.
Luas Kebakaran Capai 200 Hektare
Kebakaran yang kembali menyala sejak Kamis, (10/9/2026) sore itu diperkirakan telah melahap sekitar 200 hektare lahan vegetasi. Kobaran api sempat merambat ke sejumlah titik krusial, seperti wilayah Ngadas, Watu Gede, hingga Jemplang.
Upaya pemadaman dilakukan secara simultan melalui jalur darat secara manual dan pemantauan jalur udara. Namun, strategi pemboman air (water bombing) menggunakan helikopter sempat terkendala angin kencang di sekitar puncak.
"Untuk Bromo tinggal beberapa titik asap yang harus kita lakukan proses pendinginan dan pembasahan. Sekarang anginnya masih kencang, belum bisa dilakukan water bombing," jelas Gatot.
Meski api belum memapar pemukiman warga, sempat terjadi kepanikan pada Sabtu (12/9/2026) ketika kobaran api mengepung kawasan fasilitas wisata Bromo Hill. Kejadian tersebut melahap sebagian jaringan pipa air bersih warga setempat sebelum akhirnya berhasil dikendalikan oleh tim gabungan. BPBD Jatim memproyeksikan proses pendinginan total dapat diselesaikan dalam waktu dekat. (ivan)