MADIUN, PustakaJC.co - Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mengakselerasi transformasi koperasi, dari yang semula didominasi sektor simpan pinjam menjadi koperasi sektor riil yang berbasis produksi. Koperasi diharapkan mampu memegang peran strategis sebagai penghubung (hub) antara hasil produksi anggota, pengolahan, hingga penetrasi pasar, khususnya pada sektor pertanian dan perikanan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Bidang Kelembagaan dan Pengawasan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur (Diskop UKM Jatim), Nanang Abu Hamid, dalam Talkshow Pengembangan Koperasi Sektor Riil yang berlangsung di Gedung Grha Mangga, Madiun, Rabu, (23/9/2026).
Nanang mengungkapkan bahwa kontribusi sektor koperasi dan UMKM terhadap PDRB Jawa Timur telah mencapai 60,04 persen. Meski demikian, dari sekitar 29.192 koperasi aktif di Jatim, lebih dari 44 persen di antaranya masih berfokus pada jasa keuangan atau simpan pinjam. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Kamis, (24/9/2026).
"Kita perlu mendorong koperasi agar tidak berhenti pada aktivitas simpan pinjam, tetapi berkembang menjadi koperasi produksi yang kuat dan terintegrasi dengan sektor riil. Pertanian dan perikanan merupakan sektor strategis yang harus kita dorong melalui kolaborasi lintas sektor," tegas Nanang.
Potensi Pertanian dan Perikanan yang Melimpah
Langkah penguatan ini didasari oleh besarnya potensi komoditas pangan di Jawa Timur. Produksi padi Jatim diproyeksikan mencapai 7,71 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) pada periode Januari–Juli 2026. Di sektor perikanan, produksi budi daya pembesaran mencatatkan angka 1,39 juta ton pada 2025.
Kepala Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam Bappeda Jatim, Andrio Himawan Wahyu Aji, menambahkan bahwa dari total koperasi aktif, sebanyak 3.874 unit (12,92 persen) telah bergerak di bidang pertanian, kehutanan, dan perikanan. Menurutnya, Bappeda bertindak sebagai orchestratoruntuk membagi peran antar-perangkat daerah secara presisi.
Sinergi lintas dinas terus dimaksimalkan. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim menyiapkan langkah intensifikasi lahan, penyediaan benih bersertifikat, alsintan, dan alokasi pupuk bersubsidi guna menjaga status lumbung pangan nasional. Sementara itu, Dinas Kelautan dan Perikanan Jatim mendorong integrasi rantai pasok perikanan budi daya (air tawar, payau, dan laut) ke dalam Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dengan menghubungkan rantai produksi langsung ke off-taker.
Model Bisnis Inovatif dari Lapangan
Praktik baik korporasi petani ditunjukkan oleh Koperasi Produsen Multi Pihak (KMP) Ngawi Tani Mandiri. Direktur Utama KMP Ngawi Tani Mandiri, Galih Wiranegara, membagikan strategi penguatan lembaga tanpa harus membebankan kepemilikan aset pada kas koperasi.
Koperasi yang menaungi 34 Poktan/Gapoktan dengan 6.929 petani ini mengoptimalkan Kerja Sama Operasional (KSO). "Aset tidak harus milik koperasi. Aset tetap merupakan milik anggota atau Gapoktan/Poktan yang dimanfaatkan melalui kerja sama operasional," terang Galih.
Melalui konsolidasi antara skema bisnis yang fleksibel, integrasi teknologi, serta komitmen lintas instansi, Pemprov Jatim optimistis koperasi sektor riil mampu meningkatkan nilai tambah secara langsung bagi kesejahteraan para petani dan nelayan di Jawa Timur. (ivan)