SURABAYA, PustakaJC.co - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur menegaskan bahwa pendampingan dari tiga pilar utama—orang tua, guru, dan masyarakat—menjadi kunci mendasar untuk melindungi anak dari bahaya perundungan siber (cyberbullying) di dunia digital.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak DP3AK Jatim, R. Hari Chandra Noviyanto, saat menjadi pembicara dalam Seminar Wanita LDII Jawa Timur di GSG Sabilurrosyidin, Gayungan, Surabaya, Minggu, (25/10/2026).
Seminar yang mengangkat tema “Membangun Ekosistem Perlindungan Anak di Ruang Digital sebagai Ruang yang Aman, Sehat, dan Ramah untuk Anak” ini menyoroti pentingnya menciptakan ruang siber yang aman bagi tumbuh kembang anak. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Senin, (26/10/2026).
Hari Chandra menjelaskan, cyberbullying merupakan ancaman serius yang sering kali luput dari penanganan karena korban cenderung takut melapor. Rasa takut diintimidasi serta kekhawatiran bahwa kasus tersebut dianggap sebagai aib keluarga kerap menjadi alasan korban memilih bungkam.
"Tidak mungkin berdiri sendiri. Tiga pilar tadi berfungsi semuanya," ujar Hari Chandra.
Ia memerinci, pilar pertama adalah keluarga, di mana orang tua memegang peran vital untuk aktif mengawasi dan mendampingi anak dalam mengoperasikan perangkat digital. Pilar kedua adalah sekolah, di mana para pendidik bertugas meningkatkan literasi digital siswa serta mengedukasi mereka terkait batas interaksi dan risiko di internet.
Sementara pilar ketiga adalah masyarakat—baik di lingkungan fisik maupun komunitas digital—yang berperan menciptakan ekosistem sosial yang positif dan suportif.
"Dengan pendampingan yang konsisten dari ketiga pilar ini, anak diharapkan mampu mengenali risiko, menggunakan internet secara bijak, dan memperoleh dukungan ketika menghadapi persoalan di dunia maya," tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Wanita LDII Jawa Timur, Emie Santoso, menyatakan bahwa seminar ini digelar sebagai bentuk penyuluhan masif bagi para ibu di seluruh Jawa Timur agar lebih tanggap terhadap pengaruh negatif ruang digital pada anak.
Emie menyebut, langkah ini semakin diperkuat dengan adanya sinergi bersama program Perisai Anakbesutan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Timur.
"Kami ingin memberikan pengetahuan kepada ibu-ibu di seluruh Jawa Timur tentang bahaya ruang digital. Program pemerintah seperti milik Diskominfo Jatim harus sampai ke tingkat akar rumput agar berdampak nyata," tutur Emie.
Melalui edukasi yang menyasar hingga ke ranah keluarga ini, Wanita LDII Jatim berharap para ibu dapat menjadi garda terdepan dalam mendampingi serta melindungi anak-anak mereka saat beraktivitas di media sosial dan dunia maya. (ivan)