SURABAYA, PustakaJC.co – Sebanyak 79 rumah sakit umum daerah (RSUD) di Jawa Timur didorong memperkuat kolaborasi guna meningkatkan mutu pelayanan dan memperluas akses kesehatan bagi masyarakat. Sinergi antarrumah sakit dinilai menjadi langkah strategis untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang semakin merata di berbagai daerah.
Pelaksana Harian (Plh) Direktur Utama RS Kemenkes Surabaya, dr. Martha Muliana Lumogom Siahaan, mengatakan Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan jumlah RSUD terbanyak di Indonesia. Potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui kerja sama antarfasilitas kesehatan. Dilansir dari jawapos.com, Minggu, (8/11/2026).
Menurut Martha, kolaborasi dengan Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA) menjadi upaya untuk memperkuat kapasitas RSUD, berbagi pengalaman, serta meningkatkan standar pelayanan kesehatan.
“Rumah sakit terbanyak di Republik ini ada di Provinsi Jawa Timur. Ada 79 RSUD di Jawa Timur. Mengapa kita menggandeng ARSADA? Karena masyarakat itu yang paling mudah mencapai akses pelayanan kesehatan setelah puskesmas adalah RSUD,” kata Martha usai acara Digital Sovereignty Forum 2026 RSUD NEXTGEN di RS Kemenkes Surabaya, Jumat, (6/11/2026).
Ia berharap, seluruh RSUD di Jawa Timur dapat semakin solid dalam membangun sistem pelayanan kesehatan yang berkualitas. Dengan demikian, masyarakat bisa merasakan manfaat kolaborasi tersebut, terutama dalam kemudahan akses dan peningkatan mutu layanan.
Martha menilai, akses terhadap pelayanan rumah sakit masih menjadi persoalan yang kerap dikeluhkan masyarakat. Salah satunya terkait keterbatasan informasi mengenai fasilitas kesehatan maupun kesulitan menghubungi pihak rumah sakit ketika membutuhkan pelayanan.
“Kalau kita lihat di media sosial, mereka selalu mengeluh susah ke rumah sakit, tidak mengerti harus menghubungi siapa. Dengan kita berkolaborasi, kita bisa saling mendorong bahwa sudah waktunya mendekat ke masyarakat. Akses itu harus dibuka,” jelasnya.
Ia menyebut, sejumlah RSUD di Jawa Timur mulai melakukan pembenahan untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Salah satu yang dinilai menunjukkan perkembangan positif adalah RSUD Notopuro di Sidoarjo.
Meski demikian, Martha menegaskan bahwa upaya peningkatan kualitas pelayanan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Keterlibatan masyarakat melalui masukan dan evaluasi menjadi bagian penting dalam proses pembenahan tersebut.
“Jawa Timur sedang berkemas, sedang berbenah diri untuk memberikan yang terbaik. Kalau ada yang masih kurang, itu sedang dalam proses perbaikan. Karena itu, masyarakat harus sering memberikan feedback terkait pelayanan kesehatan di masing-masing daerah,” ujarnya.
Martha juga menekankan pentingnya percepatan transformasi rumah sakit dalam menghadapi kebutuhan pelayanan kesehatan yang terus berkembang. Menurutnya, pembenahan sistem dan peningkatan kualitas layanan harus dimulai sejak sekarang.
“The future healthcare not tomorrow but today. Jadi, mulainya dari sekarang,” tegasnya.
Penguatan kolaborasi ant RSUD di Jawa Timur diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperbaiki sistem pelayanan kesehatan, sekaligus mendekatkan fasilitas kesehatan kepada masyarakat. (ivan)