Dari Sekolah, Khofifah Bangun Ketahanan Pangan Jawa Timur

parlemen | 04 November 2026 08:14

Dari Sekolah, Khofifah Bangun Ketahanan Pangan Jawa Timur
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menanam pohon di SMKN Kota Probolinggo. (dok antara)

PROBOLINGGO, PustakaJC.co – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong penguatan ketahanan pangan melalui lingkungan pendidikan. Upaya tersebut diwujudkan melalui program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) yang melibatkan guru dan siswa dalam kegiatan budidaya tanaman pangan di sekolah.

 

Komitmen tersebut ditunjukkan Khofifah dengan menanam 100 pohon bersama guru dan siswa di SMKN 4 Kota Probolinggo, Selasa, (3/11/2026). Sebanyak 100 pohon yang ditanam terdiri atas mangga, alpukat, dan kelengkeng. Dilansir dari antaranews.com, Rabu, (4/11/2026).

 

Khofifah mengatakan, sekolah tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran untuk memperkuat ketahanan pangan.

 

Menurutnya, keterbatasan lahan bukan menjadi penghalang bagi satuan pendidikan untuk mengembangkan kegiatan budidaya tanaman. Sekolah dapat memanfaatkan media tanam alternatif seperti polibag agar kegiatan tetap berjalan.

 

“Lingkungan sekolah dapat menjadi ruang pembelajaran sekaligus sarana untuk memperkuat ketahanan pangan. Pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah, termasuk melalui pemanfaatan polibag ketika lahan terbatas,” kata Khofifah.

 

 

Dalam kunjungan tersebut, Khofifah juga melihat langsung praktik budidaya tanaman yang dilakukan para siswa melalui program SIKAP. Sejumlah komoditas yang dikembangkan di antaranya cabai, terong, seledri, tomat, dan kangkung.

 

Ia menjelaskan, program SIKAP dikembangkan di seluruh SMA, SMK, dan SLB, baik negeri maupun swasta di Jawa Timur. Program tersebut diharapkan dapat membangun kesadaran peserta didik mengenai pentingnya ketahanan pangan sejak lingkungan sekolah.

 

“Melalui SIKAP, kami ingin bagaimana sekolah-sekolah itu menjadi bagian pembelajaran dan penguatan terwujudnya ketahanan pangan di Indonesia, dimulai dari sekolah-sekolah di Jawa Timur,” ujarnya.

 

Khofifah menambahkan, pemanfaatan polibag sebagai media tanam juga menunjukkan hasil yang baik. Karena itu, metode tersebut dapat menjadi alternatif bagi sekolah yang tidak memiliki lahan luas untuk mengembangkan budidaya tanaman.

 

Selain meninjau kegiatan budidaya, Khofifah melihat pameran hasil program SIKAP Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Probolinggo. Pameran tersebut menghadirkan sembilan stan dengan 32 jenis produk hasil kreativitas sejumlah satuan pendidikan.

 

Produk yang ditampilkan meliputi komoditas hortikultura seperti kentang, tomat, dan wortel. Selain itu, terdapat berbagai produk olahan pangan, mulai dari minuman bunga telang, ikan marinasi, dimsum, hingga puding.

 

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur.

 

Dalam kesempatan yang sama, Khofifah didampingi Wali Kota Probolinggo Aminuddin dan Wakil Wali Kota Probolinggo Ina Dwi Lestari juga menyaksikan penyaluran bantuan pendidikan afirmasi kepada 224 siswa jenjang SMA, SMK, dan SLB di Kota Probolinggo.

 

Masing-masing siswa menerima bantuan sebesar Rp1 juta. Bantuan tersebut diberikan untuk membantu meringankan biaya pendidikan, khususnya bagi peserta didik dari keluarga dengan tingkat kesejahteraan rendah.

 

Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis kepada 20 siswa. Khofifah menyebut, penerima bantuan di Kota Probolinggo berasal dari kelompok desil 1 hingga desil 4.

 

“Kami keliling ke semua kabupaten/kota yang bisa dijangkau untuk memastikan bahwa ada beasiswa afirmasi. Di Probolinggo sebanyak 224 siswa yang berasal dari Desil 1 sampai 4,” katanya.

 

 

Menurut Khofifah, bantuan pendidikan afirmasi merupakan salah satu bentuk intervensi pemerintah daerah untuk memastikan anak-anak tetap memperoleh akses pendidikan dan tidak terkendala persoalan ekonomi.

 

Ia berharap dukungan tersebut dapat membantu keberlanjutan pendidikan siswa sekaligus memperluas pemerataan pembangunan sumber daya manusia di Jawa Timur.

 

“Diharapkan tidak ada alasan mereka untuk kemudian berhenti atau putus sekolah karena ada persoalan-persoalan ekonomi. Bantuan itu kami berikan untuk melancarkan, melangsungkan, dan melanjutkan pendidikan mereka,” tutur Khofifah. (ivan)