Khofifah Andalkan SIKAP dan Sahabat Pulang dalam IGA 2026

parlemen | 05 November 2026 07:45

Khofifah Andalkan SIKAP dan Sahabat Pulang dalam IGA 2026
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat memaparkan inovasi SIKAP dan Sahabat Pulang dalam Presentasi Kepala Daerah Regional Jawa-Bali Innovative Government Award (IGA) 2026 secara daring, Rabu, (4/11/2026). (dok kominfo)

SURABAYA, PustakaJC.co – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memaparkan dua inovasi unggulan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, yakni Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) dan Sahabat Pulang, dalam ajang Innovative Government Award (IGA) 2026, Rabu, (4/11/2026).

 

Presentasi Kepala Daerah Regional Jawa-Bali yang diselenggarakan Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri tersebut menjadi kesempatan bagi pemerintah daerah untuk menunjukkan inovasi pelayanan publik yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Kamis, (5/11/2026).

 

Dalam pemaparannya secara daring, Khofifah menjelaskan bahwa SIKAP merupakan inovasi yang mengintegrasikan ketahanan pangan dengan pembentukan karakter, keterampilan, serta jiwa kewirausahaan peserta didik. Program tersebut telah melibatkan 1.548 sekolah di Jawa Timur.

 

SIKAP dikembangkan melalui berbagai sektor, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, hingga pengelolaan sampah. Program ini juga mendorong pemanfaatan lahan sekolah sebagai ruang pembelajaran kontekstual yang menghubungkan teori dengan praktik.

 

“Yang ingin kita lakukan adalah menjadikan proses pembelajaran secara kontekstual, bagaimana melihat potensi lahan di hampir semua sekolah yang belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga bisa menjadi bagian dari pengintegrasian antara teori yang diperoleh di kelas dan praktik,” jelas Khofifah.

 

 

Melalui program tersebut, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam proses produksi pangan dan pengembangan kewirausahaan.

 

Sejumlah sekolah telah mengembangkan budidaya ikan nila, peternakan ayam potong dan ayam petelur, hingga produksi melon dan sayuran. Hasil produksi tersebut kemudian dipasarkan kepada masyarakat maupun melalui media sosial.

 

Pemprov Jatim juga mendorong pengembangan kemitraan dengan pelaku usaha dan offtaker. Bahkan, beberapa sekolah telah menjalin kerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk menyalurkan hasil produksi pangan.

 

Selain memperkuat ketahanan pangan, SIKAP turut mengintegrasikan pengelolaan lingkungan melalui pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk dan pengolahan sampah anorganik guna mengurangi pencemaran.

 

Pemprov Jatim juga menjajaki kerja sama pemasaran komoditas cabai, daun pandan, dan serai dengan Saria Raya Jepang.

 

Untuk memastikan keberlanjutan program, pembinaan dilakukan secara berjenjang melalui Dinas Pendidikan Jatim, kepala cabang dinas pendidikan, serta Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS). Khofifah juga melakukan pemantauan langsung terhadap pelaksanaan program di sejumlah sekolah.

 

Menurut Khofifah, penguatan ketahanan pangan dapat dimulai dari optimalisasi lahan yang tersedia tanpa harus bergantung pada kawasan pertanian berskala luas.

 

“Untuk membangun ketahanan pangan tidak harus dengan luasan berhektare-hektare, tetapi dari area yang ada sebetulnya memiliki potensi untuk bisa dimaksimalkan,” ungkapnya.

 

 

Sahabat Pulang Fasilitasi 5.079 Orang

 

Selain inovasi di sektor pendidikan dan ketahanan pangan, Khofifah juga memaparkan program Sahabat Pulang yang berfokus pada fasilitasi pemulangan masyarakat terlantar ke daerah asal.

 

Program tersebut telah memfasilitasi pemulangan sebanyak 5.079 orang sejak 2024 hingga 2026.

 

Sementara itu, sekitar 200 orang masih berada di unit pelaksana teknis (UPT) Dinas Sosial Jawa Timur karena keberadaan keluarga maupun daerah asal mereka belum terkonfirmasi.

 

Pelaksanaan Sahabat Pulang didukung 120 pekerja sosial, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), serta Jatim Social Care (JSC). Jaringan tersebut berperan dalam mendukung pendataan, penelusuran keluarga, hingga koordinasi proses pemulangan.

 

Khofifah menegaskan bahwa penguatan koordinasi dan regulasi lintas daerah menjadi faktor penting dalam memastikan pelayanan sosial berjalan secara terintegrasi, efektif, dan akuntabel.

 

Melalui pemanfaatan jejaring pekerja sosial, TKSK, dan JSC, proses penanganan masyarakat terlantar diharapkan dapat dilakukan secara lebih optimal.

 

Pemaparan kedua inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya Pemprov Jatim dalam memperkuat kualitas pelayanan publik. SIKAP diarahkan untuk membangun ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan, sedangkan Sahabat Pulang menghadirkan pelayanan sosial yang inklusif dan berkelanjutan.

 

Kedua program tersebut mencerminkan pendekatan inovasi daerah yang tidak hanya berorientasi pada tata kelola pemerintahan, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. (ivan)