SURABAYA, PustakaJC.co – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut perekonomian Jawa Timur mencatat pertumbuhan sebesar 5,83 persen secara kumulatif hingga triwulan III 2026. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan provinsi lain di Pulau Jawa dan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,45 persen.
Khofifah mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelaku usaha, pekerja, petani, nelayan, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dilansir dari antaranews.com, Sabtu, (7/11/2026).
“Alhamdulillah, secara kumulatif hingga triwulan III 2026, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,83 persen, melampaui nasional dan menjadi yang tertinggi se-Pulau Jawa. Capaian ini merupakan hasil kerja bersama para pelaku usaha, pekerja, petani, nelayan, UMKM, serta seluruh masyarakat Jawa Timur,” kata Khofifah di Surabaya, Sabtu, (7/11/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur yang dirilis pada Kamis, (5/11/2026), pertumbuhan ekonomi Jatim berada di atas sejumlah provinsi lain di Pulau Jawa.
Jawa Tengah mencatat pertumbuhan sebesar 5,82 persen, Jawa Barat 5,81 persen, DI Yogyakarta 5,80 persen, DKI Jakarta 5,66 persen, dan Banten 5,62 persen.
Khofifah mengapresiasi kontribusi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui aktivitas produksi, perdagangan, investasi, dan konsumsi.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi perlu diikuti pemerataan manfaat bagi masyarakat. Hal tersebut terutama melalui peningkatan kesempatan kerja, pengembangan usaha produktif, serta penguatan daya beli keluarga.
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur, yakni mencapai 31,26 persen.
Sektor perdagangan menyumbang 18,37 persen, sedangkan pertanian, kehutanan, dan perikanan berkontribusi sebesar 11,12 persen.
Ketiga sektor tersebut juga mencatatkan pertumbuhan positif. Industri pengolahan tumbuh 5,95 persen, perdagangan 6,23 persen, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 4,01 persen.
Sementara itu, sektor konstruksi mencatat pertumbuhan sebesar 8,18 persen. Adapun pertumbuhan tertinggi berdasarkan lapangan usaha terjadi pada sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang mencapai 11,29 persen.
Kinerja sektor akomodasi dan makan minum tersebut didukung oleh berbagai kegiatan lokal maupun nasional, serta peningkatan realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar dalam perekonomian Jawa Timur dengan kontribusi mencapai 60,60 persen. Komponen tersebut tumbuh sebesar 5,72 persen.
Di sisi lain, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi fisik mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,37 persen.
Khofifah menilai, penguatan daya beli masyarakat dan peningkatan investasi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah.
“Daya beli masyarakat harus terus kita jaga. Pada saat yang sama, kita perlu memastikan investasi yang masuk dapat memperkuat kapasitas produksi dan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat Jawa Timur,” ujarnya.
Secara tahunan atau year-on-year (y-on-y), ekonomi Jawa Timur pada triwulan III 2026 tumbuh sebesar 5,82 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,47 persen.
Sementara secara triwulanan atau quarter-to-quarter (q-to-q), perekonomian Jatim tumbuh 1,80 persen dibandingkan triwulan II 2026.
Pertumbuhan ekonomi tersebut turut diikuti peningkatan jumlah penduduk bekerja. BPS mencatat, jumlah penduduk bekerja di Jawa Timur pada Agustus 2026 mencapai 24,36 juta orang atau bertambah 559,62 ribu orang dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Adapun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Timur pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,60 persen.
Khofifah mengatakan, peningkatan kompetensi sumber daya manusia perlu terus diperkuat agar masyarakat dapat mengambil bagian dalam pertumbuhan ekonomi, baik melalui kesempatan kerja maupun pengembangan usaha produktif.
Ia juga mengajak pemerintah kabupaten/kota, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2026.
“Terima kasih atas kerja keras dan kontribusi seluruh masyarakat Jawa Timur. Mari kita jaga momentum ini dengan memperkuat usaha produktif dan memperluas kesempatan kerja, agar pertumbuhan ekonomi semakin merata manfaatnya bagi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (ivan)