Pertama di Indonesia, Jatim Luncurkan Instalasi Karantina Terpadu untuk Hewan, Ikan, dan Tumbuhan

parlemen | 06 Juli 2025 15:06

Pertama di Indonesia, Jatim Luncurkan Instalasi Karantina Terpadu untuk Hewan, Ikan, dan Tumbuhan
Gubernur Khofifah (kiri) pada MoU dengan Kepala Badan Karantina Indonesia Dr. Sahat Manaor Panggabean tentang pentingnya Penyelenggaraan Perkarantinaan Hewan, Ikan, dan Tumbuhan dalam instalasi karantina terpadu di Gedung Negara Grahadi. (dok jawapos)

SURABAYA, PustakaJC.co – Untuk pertama kalinya di Indonesia, sebuah Instalasi Karantina Terpadu resmi didirikan di Jawa Timur. Penandatanganan MoU dilakukan oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Kepala Badan Karantina Indonesia Dr. Sahat Manaor Panggabean di Gedung Negara Grahadi, Jumat, (4/7/2025).

Fasilitas ini dibangun di kawasan Puspa Agro, Sidoarjo, dengan lahan seluas 50 hektare. Instalasi ini mencakup layanan karantina untuk hewan, ikan, dan tumbuhan, serta dilengkapi laboratorium uji, fasilitas pengujian terpadu, bea cukai, dan sistem logistik dalam satu kawasan. Dilansir dari jatimpos.co, Minggu, (6/7/2026).

“Jadi MoU ini terkait pendirian Instalasi Karantina Terpadu. Di Indonesia baru pertama di Jatim. Ini untuk tiga item ya, hewan, ikan, dan tumbuhan. Bahkan yang ikan sudah jalan,” kata Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Ia menegaskan bahwa sistem karantina terpadu ini akan mendorong efisiensi karena seluruh proses ekspor dan impor dilakukan secara one stop service. Tidak ada lagi proses yang terpisah-pisah atau berpindah-pindah lokasi.

“Karena sistemnya terpadu, semua tersedia dalam satu kawasan. Laboratoriumnya sudah ada, ada bea cukai, dan Badan Karantina untuk ekspor maupun impor. Ini sangat efisien dan berdaya saing tinggi,” imbuh Khofifah.

Sepanjang 2024, layanan karantina di Jawa Timur telah memfasilitasi ekspor senilai USD 25,80 miliar dan impor sebesar USD 29,97 miliar. Data ini menunjukkan pentingnya peran sistem karantina yang solid bagi kelancaran perdagangan internasional.

“Ini akan meningkatkan efisiensi arus barang, termasuk menekan dwelling time, dan menurunkan Incremental Capital Output Ratio (ICOR). Harapannya, daya saing produk kita naik dan minat investasi ke Jatim juga ikut meningkat,” jelasnya.

Tak hanya itu, langkah ini sejalan dengan misi besar Jawa Timur menjadi Gerbang Baru Nusantara, yang bukan hanya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga simpul logistik nasional dan internasional yang aman dan efisien.

Kawasan Puspa Agro kini siap bertransformasi menjadi pusat karantina modern dengan sistem digital dan pengawasan yang terkoneksi secara internasional. Fasilitas ini ditargetkan menjadi pusat logistik pangan, peternakan, dan perikanan yang bisa memangkas waktu, biaya, dan risiko.

“Kami berkomitmen mempercepat arus barang, menekan biaya logistik yang selama ini menjadi tantangan bagi pelaku usaha, serta yang paling utama, menjamin keamanan hayati produk-produk unggulan Jawa Timur,” tegas Gubernur Jatim itu.

Kepala Badan Karantina Indonesia, Dr. Sahat Manaor Panggabean menegaskan bahwa kerja sama ini menjadi pionir nasional dan akan menjadi role model untuk wilayah lain di Indonesia.

“Hari ini kami MoU dengan Pemprov Jatim, bahwa kita akan membangun Instalasi Karantina Terpadu di Puspa Agro. Semua pengurusan karantina dan bea cukai bisa diselesaikan dalam satu kawasan,” ujar Sahat.

Pihaknya menambahkan bahwa sistem ini akan terkoneksi langsung dengan negara-negara mitra dagang Indonesia, sehingga memperkuat transparansi dan kepercayaan dalam perdagangan ekspor-impor.

“Sehingga mereka tahu barang mereka sampai mana dan dari mana. Semua sudah siap, saya pikir tahun ini bisa segera running,” pungkas Kepala Badan Karantina Indonesia ini.

Dengan dibangunnya Instalasi Karantina Terpadu pertama di Indonesia ini, Jawa Timur tidak hanya mengambil langkah strategis dalam efisiensi logistik nasional, tetapi juga menjadi pelopor sistem perkarantinaan modern berbasis integrasi kawasan dan data. Sebuah lompatan besar menuju layanan publik yang lebih responsif, terpercaya, dan kompetitif di era global. (ivan)