Jatim Jadi Sentra Jeruk Nasional, Khofifah Dorong Konsumsi Lokal dan Tekan Impor

parlemen | 05 Januari 2026 05:37

Jatim Jadi Sentra Jeruk Nasional, Khofifah Dorong Konsumsi Lokal dan Tekan Impor
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa memetik jeruk siam di Desa Kayu Kebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan. (dok bhirawa)

PASURUAN, PustakaJC.co – Jawa Timur menegaskan posisinya sebagai provinsi dengan produksi jeruk tertinggi di Indonesia. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut capaian tersebut sebagai kekuatan strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

 

Hal itu disampaikan Khofifah saat mengunjungi sentra jeruk siam di Desa Kayu Kebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Sabtu, (3/1/2026). Dalam kunjungan tersebut, Khofifah memetik langsung jeruk siam dan mengapresiasi kualitas buah yang dinilai unggul dari sisi rasa, ukuran, hingga tampilan. Dilansir dari bhirawaonline.co.id, Senin, (5/1/2026).

 

“Jeruk siam Tutur ini sangat unggul. Dua bulan lalu saya ke sini, dan hari ini saya terkesima. Buahnya tumbuh lebat, ukurannya besar, warnanya cerah, dan rasanya manis,” ujar Khofifah.

 

 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, total produksi jeruk di Jawa Timur pada triwulan III 2025 mencapai 959.231,31 ton atau berkontribusi 36,22 persen terhadap produksi nasional. Angka tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai produsen jeruk terbesar di Indonesia.

 

Khofifah menegaskan, tingginya produksi jeruk lokal harus diimbangi dengan peningkatan konsumsi dalam negeri. Menurutnya, hal ini penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap jeruk impor sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat petani.

 

“Produksi jeruk di Jawa Timur adalah yang tertinggi secara nasional. Ini potensi besar yang harus dijaga bersama, salah satunya dengan meningkatkan konsumsi jeruk lokal dan secara bertahap mengurangi impor,” tegasnya.

 

 

Ia juga memastikan kualitas jeruk lokal tidak kalah dengan produk impor, baik dari segi rasa, kesegaran, maupun kandungan gizi. Selain itu, membeli jeruk lokal dinilai turut menggerakkan perekonomian daerah dan meningkatkan pendapatan petani.

 

“Konsumsi jeruk lokal bukan hanya soal kesehatan, tapi juga bagian dari gerakan cinta produk dalam negeri dan penguatan ekonomi petani,” jelas Khofifah.

 

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Khofifah juga berdialog dengan para petani jeruk terkait tantangan produksi, distribusi, serta peluang pengembangan nilai tambah komoditas jeruk ke depan. Pemerintah Provinsi Jawa Timur, kata dia, akan terus hadir mendampingi petani melalui peningkatan kualitas produksi hingga penguatan akses pasar.

 

Kunjungan itu sekaligus menegaskan komitmen Pemprov Jatim dalam memperkuat agribisnis jeruk sebagai salah satu penopang ekonomi daerah dan ketahanan pangan nasional. (ivan)