Mengacu data Kementerian Kesehatan RI, hingga akhir Desember 2025 tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) yang tersebar di delapan provinsi. Jawa Timur menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi yakni 23 kasus, disusul Kalimantan Selatan dan Jawa Barat.
Menurut Wara, Jawa Timur memiliki risiko tinggi karena tingkat mobilitas dan kepadatan penduduk yang besar, serta banyaknya pintu masuk melalui bandara dan pelabuhan.
“Jatim ini wilayah strategis. Kesiapsiagaan harus diperkuat sejak dini,” katanya.
Ia mendorong Pemprov Jatim mengaktifkan status kewaspadaan dini, memperkuat integrasi data kesehatan kabupaten dan kota, serta menggencarkan edukasi publik sebagaimana pola penanganan saat pandemi Covid-19.
“Edukasi jangan menunggu kasus melonjak. Kesadaran masyarakat adalah benteng pertama,” pungkasnya. (ivan)