SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan penyebaran virus influenza A(H3N2) subclade K di wilayah Jatim hingga akhir 2025 masih dalam kondisi terkendali. Masyarakat diimbau tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan, berdasarkan hasil surveilans dan pemeriksaan laboratorium rujukan Kementerian Kesehatan RI, varian influenza tersebut tidak menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan varian influenza lainnya. Dilansir dari bhirawaonline.co.id, Selasa, (6/1/2026).
“Virus influenza A(H3N2) subclade K tidak berbahaya dan tidak mematikan. Di Jawa Timur, situasinya masih terkendali dengan baik,” ujar Khofifah di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin, (5/1/2026).
Khofifah menjelaskan, kemunculan subclade baru merupakan hal yang wajar dalam dinamika perkembangan virus influenza. Karena itu, pemantauan ilmiah terus dilakukan secara ketat oleh pemerintah dan tenaga kesehatan.
Pemprov Jatim, lanjutnya, secara konsisten melakukan surveilans melalui site sentinel Influenza Like Illness (ILI) di Puskesmas Dinoyo Kota Malang serta Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di RSUD dr. Saiful Anwar Malang. Spesimen yang dikumpulkan rutin dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya dan diteruskan ke laboratorium rujukan nasional untuk pemeriksaan Whole Genome Sequencing.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, tercatat 18 kasus positif dengan waktu pengambilan spesimen pada periode September hingga November 2025. Mayoritas kasus ditemukan pada kelompok usia anak dan remaja, dengan proporsi laki-laki dan perempuan yang relatif seimbang.
“Temuan ini menjadi dasar untuk terus memperkuat kewaspadaan dini, terutama pemantauan kasus ISPA di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan,” tegas Khofifah.
Dinas Kesehatan Jatim juga telah melakukan berbagai langkah antisipasi, mulai dari penguatan surveilans ILI-SARI, koordinasi intensif dengan Kemenkes RI, pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) mingguan, hingga pelaporan pemeriksaan spesimen melalui aplikasi New All Record (NAR).
Selain itu, pembaruan pengetahuan dan peningkatan kapasitas petugas kesehatan terus dilakukan agar layanan tetap responsif. Edukasi kepada masyarakat mengenai etika batuk, penggunaan masker saat sakit, serta kebiasaan mencuci tangan juga terus digencarkan.
Di sisi lain, perkembangan kasus ini mendapat perhatian dari DPRD Jawa Timur. Anggota DPRD Jatim Wara Sundari Renny Pramana mengingatkan pemerintah daerah agar tidak lengah terhadap potensi penularan influenza A(H3N2) subclade K.
“Ini bukan isu biasa. Penularannya cepat dan gejalanya mirip flu biasa. Kalau terlambat diantisipasi, dampaknya bisa serius,” ujarnya.
Mengacu data Kementerian Kesehatan RI, hingga akhir Desember 2025 tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) yang tersebar di delapan provinsi. Jawa Timur menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi yakni 23 kasus, disusul Kalimantan Selatan dan Jawa Barat.
Menurut Wara, Jawa Timur memiliki risiko tinggi karena tingkat mobilitas dan kepadatan penduduk yang besar, serta banyaknya pintu masuk melalui bandara dan pelabuhan.
“Jatim ini wilayah strategis. Kesiapsiagaan harus diperkuat sejak dini,” katanya.
Ia mendorong Pemprov Jatim mengaktifkan status kewaspadaan dini, memperkuat integrasi data kesehatan kabupaten dan kota, serta menggencarkan edukasi publik sebagaimana pola penanganan saat pandemi Covid-19.
“Edukasi jangan menunggu kasus melonjak. Kesadaran masyarakat adalah benteng pertama,” pungkasnya. (ivan)