Menurutnya, apabila kenaikan harga minyak langsung diteruskan ke harga BBM, hal tersebut berisiko menekan daya beli masyarakat sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi. Karena itu, pemerintah tetap menahan harga demi menjaga konsumsi domestik.
“Tidak apa-apa (kalau harga minyak ke level USD 150 per barel), kita pasti selamat. Kita tidak akan hancur. Kenapa? Tidak akan lama ke USD 150. Karena semuanya akan resesi. Sehabis itu jatuh dalam sekali,” katanya.
Meski demikian, Purbaya mengakui bahwa harga minyak global bersifat fluktuatif dan pemerintah terus mencermati potensi kenaikan lebih lanjut. Ia menyebut, bahkan jika harga minyak sempat menyentuh level tinggi seperti USD 150 per barel, kondisi tersebut kemungkinan tidak akan berlangsung lama.