Kenaikan Harga Plastik Dinilai Pakar Unair Picu Perbaikan Lingkungan

parlemen | 11 April 2026 10:40

Kenaikan Harga Plastik Dinilai Pakar Unair Picu Perbaikan Lingkungan
Pakar Lingkungan Universitas Airlangga, Dr Rizkiy Amaliyah Barakwan.(dok beritajatim) 

SURABAYA, PustakaJC.co – Kenaikan harga plastik dinilai dapat menjadi momentum penting dalam mendorong perbaikan ekosistem lingkungan. Hal ini disampaikan oleh pakar dari Universitas Airlangga (Unair) yang menilai bahwa mahalnya harga plastik berpotensi mengubah pola konsumsi masyarakat sekaligus menekan penggunaan plastik sekali pakai. Sabtu, (11/4/2026). 


“Wadah yang ramah lingkungan memiliki biodegradabilitas tinggi, dapat terdekomposisi dalam hitungan minggu, sehingga mengurangi pencemaran lingkungan,” ujar Rizkiy, Demikian dikutip beritajatim.com, Sabtu, (11/4/2026). 


Menurutnya, selama ini plastik menjadi pilihan utama karena harganya murah dan mudah didapat. Namun, kondisi tersebut justru berdampak pada meningkatnya volume sampah plastik yang sulit terurai dan mencemari lingkungan, baik di darat maupun di perairan.

Dengan adanya kenaikan harga, masyarakat diharapkan mulai beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan, seperti penggunaan tas belanja pakai ulang, kemasan berbahan organik, hingga produk yang dapat didaur ulang. Perubahan perilaku ini dinilai menjadi kunci dalam mengurangi beban pencemaran lingkungan.


“Penggunaan ini lebih baik karena meninggalkan jejak karbon lebih rendah dan mendukung ekonomi sirkular, seperti petani daun pisang serta produsen kertas daur ulang,” tuturnya.


Selain itu, kenaikan harga plastik juga dapat mendorong industri untuk berinovasi dalam menghadirkan produk yang lebih berkelanjutan. Produsen akan terdorong mencari bahan baku alternatif yang tidak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi jangka panjang.

Pakar tersebut juga menekankan bahwa kebijakan terkait harga plastik perlu diiringi dengan edukasi kepada masyarakat. Tanpa pemahaman yang baik, kenaikan harga dikhawatirkan hanya menjadi beban ekonomi tanpa memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan.


“Ini penting karena sustainability tidak hanya digerakkan oleh regulasi, tetapi juga oleh permintaan pasar. Mendorong munculnya inovasi kemasan berbasis bahan lokal dibandingkan impor,” imbuh Rizkiy.


Ia menambahkan, pemerintah memiliki peran strategis dalam memperkuat regulasi, termasuk pembatasan penggunaan plastik sekali pakai serta pemberian insentif bagi industri yang mengembangkan produk ramah lingkungan.

Dengan sinergi antara kebijakan, kesadaran masyarakat, dan inovasi industri, kenaikan harga plastik diyakini dapat menjadi langkah awal menuju ekosistem lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan. 

“Lonjakan harga plastik justru membuka peluang keluar dari ‘ketergantungan struktural’ terhadap material berbasis fosil,” terangnya. (frcn)