Stunting Jatim Turun Tajam, Program PASTI 2025 Jadi Bukti Kolaborasi Efektif

parlemen | 28 April 2026 07:32

Stunting Jatim Turun Tajam, Program PASTI 2025 Jadi Bukti Kolaborasi Efektif
Program Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia (PASTI) tahun 2025 di Jawa Timur. (dok kominfo)

SURABAYA, PustakaJC.co - Penurunan angka stunting di Jawa Timur kian menunjukkan tren positif. Program Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia (PASTI) 2025 menjadi salah satu bukti nyata bahwa kolaborasi lintas lembaga mampu memberikan dampak signifikan di lapangan.

 

Program PASTI 2025 di Jawa Timur mencatat hasil menggembirakan. Evaluasi yang dilakukan di Kabupaten Malang dan Ngawi menunjukkan penurunan signifikan angka stunting, seiring penguatan intervensi berbasis masyarakat.

 

Program Lead PASTI Jatim dari Yayasan Cipta, Christine Lora Egaratri, mengungkapkan bahwa salah satu capaian utama adalah peningkatan status gizi balita. Cakupan penimbangan baduta di Posyandu bahkan mencapai 88,44 persen sepanjang 2025.

 

“Keberhasilan ini didukung kelas makan dan edukasi melalui Pos Gizi DASHAT yang mendorong perubahan perilaku pengasuhan menjadi lebih sadar dan konsisten,” ujarnya saat pemaparan kinerja di Ruang LIBI 1 BKKBN Jatim, Senin, (27/4/2026).

 

 

 

Intervensi Pos Gizi DASHAT (PGD) juga menunjukkan partisipasi tinggi, yakni 98,4 persen di Malang dan 100 persen di Ngawi. Pendampingan intensif oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK) menjangkau 2.745 ibu hamil serta ibu atau pengasuh baduta.

 

Hasilnya, tingkat pengetahuan peserta mencapai 97–98 persen, khususnya terkait ASI eksklusif, MP-ASI, dan penanganan ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK). Bahkan, sekitar 80 persen ibu hamil KEK yang mengikuti program mengalami peningkatan berat badan.

 

Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur, Sukamto, mengapresiasi kolaborasi yang telah berjalan sejak 2023. Program ini awalnya menyasar lima wilayah, kemudian difokuskan menjadi tiga daerah—Lamongan, Ngawi, dan Malang—hingga akhirnya tersisa dua wilayah pada 2025.

 

“Alhamdulillah, angka stunting turun drastis. Penurunannya sangat baik dan signifikan,” ungkapnya.

 

 

Berdasarkan data SSGI 2024, prevalensi stunting di Jawa Timur tercatat sebesar 14,7 persen, lebih rendah dibandingkan angka nasional yang mencapai 19,8 persen.

 

Namun, Sukamto mengingatkan bahwa keberhasilan tidak semata diukur dari penurunan stunting. Ia mencontohkan Kabupaten Ngawi yang tetap mendapatkan kebijakan fiskal meski angka stunting tidak turun, karena indikator pembangunan lainnya terpenuhi.

 

“Ini menunjukkan bahwa banyak aspek pendukung lain yang harus dipenuhi, tidak hanya satu indikator,” tegasnya.

 

 

 

Ia pun menekankan pentingnya penguatan kelembagaan dan tata kelola program di lapangan agar capaian ini dapat berkelanjutan.

 

Dengan capaian tersebut, Program PASTI menjadi contoh bahwa sinergi antar lembaga, edukasi berbasis komunitas, serta pendampingan intensif mampu mempercepat penurunan stunting secara nyata dan berkelanjutan di Jawa Timur. (ivan)