Emil Dardak Paparkan Strategi Ketangguhan Iklim Jatim di Forum Asia Pasifik, Dari Kota hingga Desa

parlemen | 05 Juni 2026 08:29

Emil Dardak Paparkan Strategi Ketangguhan Iklim Jatim di Forum Asia Pasifik, Dari Kota hingga Desa
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyampaikan materi tentang pembangunan rendah karbon dan ketahanan iklim Jawa Timur pada forum internasional ASPAC di Hotel DoubleTree Jakarta.

JAKARTA, PustakaJC.co – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak memaparkan berbagai strategi pembangunan ketangguhan iklim yang dijalankan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam forum internasional Global Gateway Asia-Pacific PFD Regional Meeting: Regional Partnerships for Shared Prosperity (ASPAC) di Hotel DoubleTree Jakarta, Rabu, (3/6/2026).

 

Dalam sesi bertajuk Urban and Rural Climate Resilience: Jawa Timur Membangun Ketangguhan Iklim dari Kota hingga Desa, Emil menegaskan bahwa perubahan iklim merupakan tantangan global yang harus dihadapi melalui kolaborasi lintas sektor dan wilayah.

 

Menurut Emil, Jawa Timur menerapkan pendekatan pembangunan rendah karbon yang terintegrasi mulai dari kawasan perkotaan hingga pedesaan. Strategi tersebut mencakup penguatan infrastruktur, peningkatan kualitas lingkungan hidup, ketahanan pangan, serta pemberdayaan masyarakat.

 

“Ketahanan iklim tidak bisa dibangun secara parsial. Jawa Timur mengembangkan pendekatan yang terintegrasi dari kota hingga desa dengan melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat,” ujar Emil.

 

 

Ia menjelaskan, komitmen Jawa Timur terhadap pembangunan rendah karbon diwujudkan melalui implementasi Rencana Aksi Daerah Gas Rumah Kaca (RAD-GRK) yang telah diperbarui pada 2017 dan 2022.

 

Pemprov Jatim menargetkan penurunan emisi sebesar 19,85 persen pada 2030. Hingga 2025, capaian penurunan emisi gas rumah kaca kumulatif tercatat mencapai 21,61 juta ton CO?e, meningkat dibanding 13,59 juta ton CO?e pada 2021.

 

Di sektor perkotaan, pembangunan berkelanjutan diperkuat melalui pengelolaan sumber daya air, rehabilitasi infrastruktur pengairan, penguatan drainase, pengembangan layanan air minum, serta pengelolaan daerah aliran sungai untuk mengurangi risiko banjir dan kekeringan.

 

Pada sektor permukiman, berbagai program diarahkan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap air minum aman, sanitasi layak, penguatan drainase lingkungan, serta penanganan desa rawan kekeringan.

 

Sementara itu, kualitas lingkungan hidup Jawa Timur juga menunjukkan tren positif. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) meningkat dari 68,49 pada 2021 menjadi 73,43 pada 2025.

 

 

Peningkatan tersebut didukung melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat, pengendalian pencemaran air, pelestarian kawasan pesisir dan laut, pengembangan energi terbarukan, hingga program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

 

Emil juga menyoroti keberhasilan Program Kampung Iklim (ProKlim) yang kini menjadi bagian dari perencanaan pembangunan desa. Selain itu, rehabilitasi mangrove, pengelolaan daerah aliran sungai, dan konservasi keanekaragaman hayati terus diperkuat untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

 

Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Jawa Timur turut memperkuat ketahanan pangan melalui pengendalian bencana pertanian, penyediaan sarana dan prasarana pertanian, serta penguatan penyuluhan bagi petani menghadapi cuaca ekstrem.

 

Di bidang kebencanaan, Emil menyebut kapasitas daerah dalam menghadapi risiko bencana terus meningkat. Salah satu langkah yang dilakukan yakni Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang berlangsung sejak Desember 2025 hingga Februari 2026 guna mengurangi potensi cuaca ekstrem.

 

“Indeks Risiko Bencana Jawa Timur berhasil turun dari 117,26 pada tahun 2021 menjadi 108,36 pada tahun 2025,” ungkapnya.

 

 

 

 

Menurut Emil, berbagai inovasi berbasis masyarakat seperti bank sampah, budidaya maggot, produksi paving block dari residu sampah, layanan pengambilan sampah rumah tangga, hingga TPS3R berkelanjutan tidak hanya mendukung lingkungan, tetapi juga meningkatkan pendapatan masyarakat dan desa.

 

“Melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, Jawa Timur akan terus memperkuat fondasi pembangunan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan sebagai kontribusi nyata terhadap agenda pembangunan berkelanjutan global,” pungkasnya. (ivan)