MALANG, PustakaJC.co – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai salak madu yang dikembangkan petani di Desa Wonoagung, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, memiliki potensi besar menjadi komoditas hortikultura unggulan karena cita rasanya yang manis dan teksturnya yang renyah.
Saat meninjau kebun milik petani Sukatmiani, Khofifah mengatakan salak madu asal Desa Wonoagung memiliki karakteristik khas yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Menurutnya, kualitas buah yang baik menjadi modal penting untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas tersebut. Dilansir dari kompas.com, Selasa, (14/7/2026).
Di lahan tersebut terdapat sekitar 450 pohon salak madu yang dalam kondisi normal mampu menghasilkan 40 hingga 60 kilogram buah setiap pekan dengan frekuensi panen dua kali seminggu. Saat musim panen raya pada Agustus hingga September, produksi dapat meningkat hingga sekitar satu kuintal seiring tingginya permintaan pasar, termasuk dari wilayah Kecamatan Ngantang.
“Salak madu dikenal memiliki cita rasa manis dengan tekstur renyah,” kata Khofifah.
Khofifah menilai keberhasilan petani mengembangkan salak madu menunjukkan komoditas hortikultura lokal memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan apabila dikelola secara profesional, didukung inovasi, serta diperkuat akses pemasarannya.
Ia berharap pengembangan salak madu di Desa Wonoagung dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mengembangkan pertanian berbasis potensi lokal yang memiliki nilai tambah.
“Komoditas lokal seperti salak madu memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, petani, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan agar kualitas produksi, nilai tambah, serta akses pemasaran semakin meningkat,” ujarnya.
Pemprov Jatim, lanjut Khofifah, akan terus memperkuat pembangunan sektor pertanian melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan hilirisasi hasil pertanian, pengembangan agribisnis, serta perluasan jaringan pemasaran.
Sementara itu, Sukatmiani mengaku mulai membudidayakan salak madu setelah mempelajari teknik penanaman dan perawatan salak di kawasan lereng Merapi. Setelah memahami karakteristik tanaman tersebut, ia membawa bibit salak madu dari Desa Turi, Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk dikembangkan di Desa Wonoagung.
“Saya melihat bagaimana cara menanam dan merawat salak di Merapi, kemudian pulang membawa bibitnya dari Desa Turi, Jogjakarta, lalu saya tanam di sini,” kata Sukatmiani.
Menurutnya, kondisi tanah hitam yang subur di Desa Wonoagung sangat mendukung pengembangan tanaman hortikultura. Selain salak madu, wilayah tersebut juga dikenal sebagai sentra produksi durian, manggis, dan jeruk yang menjadi komoditas unggulan Kabupaten Malang. (ivan)