Dindik Jatim Dorong Guru Gunakan Game Digital Sebagai Sarana Pembelajaran Inovatif

pendidikan | 15 Mei 2025 21:21

Dindik Jatim Dorong Guru Gunakan Game Digital Sebagai Sarana Pembelajaran Inovatif
Dindik Jatim Dorong Guru Gunakan Game Digital Sebagai Sarana Pembelajaran Inovatif (doc suarasurabaya)

SURABAYA, PustakaJC.co - Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur mendorong para guru untuk menjadikan game digital populer seperti Mobile Legends sebagai media pembelajaran yang relevan dan menyenangkan bagi siswa.

 

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Surabaya-Sidoarjo, Kiswanto, menyampaikan hal tersebut saat menghadiri peluncuran program Duta Guru Mobile Legends Bang Bang yang digagas Moonton Games Indonesia, Kamis (15/5/2025) di Surabaya.

 

“Penting untuk menyambungkan permainan dengan pendidikan agar belajar jadi alami. Bermain juga mengembangkan strategi dan kemampuan kognitif anak,” ujar Kiswanto.

 

Menurutnya, ketertarikan pelajar terhadap game digital bisa dimanfaatkan sebagai pendekatan edukatif, sehingga proses belajar terasa lebih dekat dengan dunia mereka. Ia menekankan pentingnya integrasi teknologi dalam dunia pendidikan untuk menyiapkan generasi yang adaptif di masa depan.

 

“Pendidikan berbasis teknologi harus disiapkan untuk generasi penerus masa depan. Acara ini diharapkan mengedukasi guru tentang pentingnya teknologi dalam pendidikan,” tambahnya.

 

Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 100 sekolah dan guru dari berbagai wilayah. Kiswanto juga menekankan pentingnya kreativitas guru dalam mengembangkan metode pembelajaran yang inspiratif dan kolaboratif.

 

“Guru juga terdorong untuk berbagi teknik dan pengalaman dalam mendidik siswa dan orang tua,” katanya.

 

Meskipun mendukung pemanfaatan teknologi, ia mengingatkan pentingnya pendidikan karakter agar anak tetap memiliki nilai-nilai moral yang kuat. “Meskipun teknologi berkembang, peran guru tetap krusial sebagai pendidik dan pembimbing,” ujarnya.

 

Kiswanto juga menyampaikan bahwa membatasi anak bermain secara sepihak justru bisa berdampak negatif terhadap keseimbangan tumbuh kembang mereka. “Pendidikan, bermain, dan menonton. Waktu bermain harus diatur agar tidak mengganggu waktu belajar dan beribadah,” tuturnya.

 

Ia berharap program ini dapat diperluas ke berbagai daerah dengan keterlibatan aktif dari sekolah dan para pendidik. “Duta-duta dari program ini memiliki tanggung jawab untuk menyosialisasikan dan mengedukasi guru-guru di sekolah. Dukungan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur memperkuat program ini. Keterbukaan dari pihak sekolah sangat penting untuk keberhasilan program,” pungkasnya. (nov)