SURABAYA, PustakaJC.co - Mulai 2025, Kamis bukan hari biasa di Surabaya. Semua siswa TK, SD, dan SMP wajib berbicara dalam Bahasa Jawa! Yuk, kenalan sama program Kamis Mlipis, upaya Pemkot hidupkan budaya lokal dari ruang kelas.
Pemerintah Kota Surabaya resmi mewajibkan penggunaan Bahasa Jawa setiap hari Kamis di sekolah. Kewajiban ini diatur dalam Peraturan Wali Kota (Perwali) Surabaya Nomor 17 Tahun 2025, berlaku untuk seluruh jenjang TK, SD, hingga SMP. Dilansir dari jawapos.com, Rabu, (9/7/2025).
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Yusuf Masruh, mengatakan kebijakan ini adalah bagian dari program “Kamis Mlipis”, sebagai langkah konkret untuk memperkuat identitas budaya Jawa sejak dini.
“Bahasa Jawa telah menjadi pelajaran wajib. Kini, Krama Inggil akan kami masukkan dalam muatan lokal dan modul ajar. Ini bukan sekadar wacana, tapi bentuk nyata pembiasaan,” ujar Yusuf, Rabu, (9/7/2025).
Meski Surabaya adalah kota multikultural, Yusuf memastikan pendekatan yang digunakan tetap inklusif.
“Kami sesuaikan dengan Bahasa Jawa khas Surabaya. Dalam mendongeng, misalnya, siswa boleh memakai logat seperti kata ‘rek’ atau ‘koen’. Fleksibel dan membumi,” tambahnya.
Untuk memperkuat program ini, Dispendik juga membentuk tim khusus berisi 24 guru (12 SD dan 12 SMP) yang ikut menyusun modul ajar Bahasa Jawa bersama Balai Bahasa Jawa Timur pada 24–26 Juni 2025.
Tak hanya itu, akan digelar beragam lomba berbahasa Jawa antarsekolah: dari menulis cerpen, mendongeng, pidato, menembang, hingga menulis aksara Jawa.
Dispendik juga telah menunjuk MGMP Bahasa Jawa untuk menyusun modul dan memberikan Surat Perintah Tugas resmi kepada guru yang terlibat.
“Kami ingin Bahasa Jawa Krama Inggil hidup dan lestari di kalangan generasi muda Kota Pahlawan. Dengan pelatihan guru dan modul terstandar, kami optimis bisa mewujudkannya,” tutup Yusuf.
Program Kamis Mlipis bukan sekadar formalitas. Ini adalah upaya serius Pemkot Surabaya untuk menghidupkan kembali akar budaya melalui pendidikan. Dari ruang kelas, Bahasa Jawa kini jadi identitas yang dibanggakan, bukan hanya dikenang. (ivan)