JAKARTA, PustakaJC.co - Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Bidang Rekayasa Perangkat Lunak, Prof. Ridi Ferdiana, memperkenalkan konsep ERA (Esensial, Rating, dan Applicable) sebagai pedoman etika dalam penggunaan kecerdasan buatan (AI). Ia menekankan pentingnya kebijaksanaan agar manusia tidak sepenuhnya dikendalikan oleh teknologi.
Menurut Ridi, konsep Esensial menekankan pentingnya mencari pengetahuan dasar melalui sumber ilmiah seperti buku, bukan semata mengandalkan AI. Sementara Rating mendorong pengguna berpikir kritis sebelum mengambil keputusan, dan Applicable berarti memanfaatkan AI hanya sebagai alat bantu dalam penyelesaian tugas. Dilansir dari nu.or.id, Sabtu, (8/11/2025).
“Generative AI seharusnya menjadi partner, bukan menggantikan peran kita sepenuhnya. Itulah pentingnya penerapan konsep ERA di dunia digital saat ini,” ujarnya lewat laman resmi UGM, Kamis, (6/11/2025).
Prof. Ridi juga menyoroti sisi positif AI yang bisa menjadi teman belajar melalui fitur-fitur seperti guided learning, membantu pengguna memahami konsep dan melakukan analisis mendalam. Namun ia mengingatkan bahaya ketergantungan berlebihan terhadap AI yang ia sebut sebagai fenomena DDA (Dikit-Dikit AI).
“Kebiasaan ini bisa membuat otak underload. Kalau terlalu sering bergantung pada AI, kemampuan berpikir kritis, mengingat, dan memecahkan masalah bisa menurun, bahkan menyebabkan brain rot karena malas berpikir,” jelasnya.
Ia mencatat, sekitar 77 persen dari 60.000 mahasiswa UGM merupakan generasi milenial dan Gen Z, dan sekitar 45.000 di antaranya sudah memanfaatkan AI dalam aktivitas akademik maupun keseharian.
“Saya perkirakan pada tahun 2030, adopsinya bisa mencapai 100 persen,” kata Guru Besar UGM ini.
Berdasarkan survei APJII 2025, generasi Z tercatat sebagai pengguna AI tertinggi di Indonesia dengan persentase 43,7 persen, disusul generasi milenial sebesar 22,3 persen. (ivan)