TKA Jatim Peringkat Lima Nasional, Dindik Tekankan Pembelajaran Bermakna dan HOTS

pendidikan | 05 Januari 2026 18:43

TKA Jatim Peringkat Lima Nasional, Dindik Tekankan Pembelajaran Bermakna dan HOTS
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai. (dok bhirawa)

SURABAYA, PustakaJC.co – Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang menempatkan Jawa Timur di peringkat lima nasional menjadi momentum evaluasi menyeluruh kualitas pembelajaran. Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim menegaskan fokus utama bukan pada angka semata, melainkan penguatan proses belajar yang bermakna dan berbasis penalaran.

 

Berdasarkan rilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, rerata nilai TKA Jawa Timur untuk Matematika tercatat 36,77, Bahasa Inggris 25,35, dan Bahasa Indonesia 56,98. Capaian tersebut dinilai perlu ditindaklanjuti dengan perbaikan strategi pembelajaran di sekolah. Dilansir dari bhirawaonline.go.id, Senin, (5/1/2025).

 

Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai menyatakan hasil TKA menjadi instrumen penting untuk pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan. “Evaluasi akan kami arahkan pada kompetensi yang masih lemah, terutama melalui peningkatan kualitas guru dan penguatan faktor pendukung pembelajaran,” ujarnya.

 

Menurut Aries, TKA mengukur literasi, numerasi, dan penalaran. Karena itu, Dindik Jatim menyiapkan berbagai langkah, mulai dari analisis soal berbasis higher order thinking skills (HOTS), pelatihan guru, hingga penguatan pembelajaran digital.

 

 

 

Salah satu program yang disiapkan adalah TKA Clinic bagi sekolah dengan capaian rendah, replikasi praktik baik dari sekolah unggulan, serta pemanfaatan Jatim Learning Digital Vault, platform pembelajaran digital berisi video, bank soal, dan modul interaktif.

 

“Pembelajaran bermakna tidak bertentangan dengan TKA. Justru jika dilaksanakan dengan benar, akan berdampak langsung pada peningkatan hasil TKA,” tegas Aries.

 

Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Jatim Prof Warsono menilai rendahnya nilai TKA tidak bisa dilepaskan dari metode mengajar guru dan lingkungan sekolah. Ia menyoroti kecenderungan pembelajaran yang masih berorientasi pada penuntasan materi, bukan pengembangan cara berpikir ilmiah.

 

 

 

“Siswa yang tidak dilatih berpikir analitis dan prediktif akan kesulitan menghadapi soal yang menuntut penalaran tingkat tinggi,” kata mantan Rektor Unesa itu.

 

Menurut Warsono, budaya bertanya harus diperkuat di sekolah karena menjadi indikator berpikir aktif. Ia menekankan pentingnya mengarahkan pembelajaran pada proses berpikir, sementara materi dijadikan sebagai alat kajian.

 

Selain kompetensi guru, lingkungan sekolah dengan budaya belajar yang kuat juga dinilai berperan besar dalam mendorong motivasi dan prestasi siswa. (ivan)