Jangan Lupa Guru di Hari Raya, Ini Nilai Pendidikan yang Sering Terabaikan

pendidikan | 25 Maret 2026 07:46

Jangan Lupa Guru di Hari Raya, Ini Nilai Pendidikan yang Sering Terabaikan
Ilustrasi santri silaturahmi ke kiai. (dok nuonline)

 

 

 

SURABAYA, PustakaJC.co - Di tengah tradisi silaturahmi Lebaran yang identik dengan keluarga, ada satu nilai pendidikan yang kerap terabaikan: mengunjungi guru. Padahal, dalam tradisi Islam, hubungan murid dan guru bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi penting dalam membangun keberkahan ilmu.

 

Hari Raya Idul Fitri menjadi momentum mempererat hubungan sosial. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa silaturahmi sering kali hanya berfokus pada keluarga dan kerabat dekat. Sementara itu, peran guru—yang berjasa membentuk karakter dan keilmuan—justru kerap terlupakan. Dilansir dari nu.or.id, Rabu, (25/3/2026).

 

Dalam perspektif pendidikan Islam, guru memiliki posisi yang sangat mulia. Mereka tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dan membentuk kepribadian peserta didik. Bahkan, Nabi Muhammad SAW menegaskan pentingnya menjaga silaturahmi sebagai jalan dilapangkannya rezeki dan dipanjangkannya umur.

 

 

 

Konsep ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Ada dimensi adab yang harus dijaga, salah satunya melalui silaturahmi kepada guru. Dalam tradisi keilmuan Islam, hubungan guru dan murid merupakan bagian dari sanad keilmuan yang harus dirawat sepanjang hayat.

 

Pemikiran ini sejalan dengan pandangan Abu Hamid al-Ghazali yang menyebut bahwa derajat guru lebih tinggi secara spiritual karena berperan dalam membimbing kehidupan akhirat. Artinya, menghormati guru bukan sekadar etika sosial, tetapi bagian dari proses pendidikan itu sendiri.

 

Lebih tegas lagi, Burhanuddin al-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim menyatakan bahwa ilmu tidak akan bermanfaat tanpa penghormatan kepada guru. Nilai ini menjadi dasar kuat dalam sistem pendidikan berbasis adab yang telah lama hidup di pesantren.

 

 

Tradisi tersebut juga tercermin dari ungkapan Ali bin Abi Thalib yang menyatakan dirinya sebagai “hamba bagi orang yang mengajarinya satu huruf”. Ungkapan ini menggambarkan betapa tingginya posisi guru dalam pandangan pendidikan Islam.

 

Di Indonesia, praktik ini dikenal dengan budaya sowan, yakni berkunjung kepada kiai atau guru untuk meminta doa dan menjaga hubungan batin. Tradisi ini biasanya menguat saat Lebaran, namun mulai mengalami pergeseran di era modern.

 

Pendiri Nahdlatul Ulama, Hasyim Asy’ari, menegaskan bahwa keberhasilan seorang murid sangat dipengaruhi oleh sikapnya terhadap guru. Menurutnya, murid yang tidak memuliakan guru akan sulit meraih keberkahan ilmu.

 

Fenomena saat ini menunjukkan adanya kecenderungan hubungan guru dan murid yang semakin pragmatis. Setelah lulus, komunikasi terputus, dan ikatan keilmuan seolah berakhir. Padahal, dalam tradisi pendidikan Islam, hubungan tersebut bersifat jangka panjang dan spiritual.

 

 

Lebaran seharusnya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai pendidikan berbasis adab ini. Mengunjungi guru bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga upaya menjaga kesinambungan ilmu dan mengambil keberkahan dari doa mereka.

 

Silaturahmi kepada guru di Hari Raya bukan sekadar tradisi, melainkan bagian penting dari pendidikan karakter. Dari sanalah, ilmu tidak hanya dipahami, tetapi juga menjadi berkah dan memberi manfaat sepanjang hayat. (ivan)