Gus Ipul Sebut Pengelola Perpustakaan Lebih Penting dari Menteri di Sekolah Rakyat

pendidikan | 16 April 2026 06:59

Gus Ipul Sebut Pengelola Perpustakaan Lebih Penting dari Menteri di Sekolah Rakyat
Gus Ipul (kanan) menghadiri sekaligus membuka Pelatihan Teknis Pengelolaan Perpustakaan Tingkat Lanjut Bagi Pengelola Perpustakaan Sekolah Rakyat Batch 3 Tahun 2026 di Novotel BSD City, Tangerang Selatan, Banten. (dok jatimpos)

TANGERANG SELATAN, PustakaJC.co - Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan peran krusial pengelola perpustakaan dalam keberhasilan program Sekolah Rakyat. Bahkan, ia menyebut posisi mereka lebih penting dari menteri dalam praktik di lapangan.

 

Pernyataan itu disampaikan saat membuka Pelatihan Teknis Pengelolaan Perpustakaan Tingkat Lanjut bagi pengelola perpustakaan Sekolah Rakyat Batch 3 Tahun 2026 di Novotel BSD City, Rabu, (15/4/2026). Kegiatan ini diikuti 127 peserta dari berbagai daerah dan berlangsung hingga 19 April 2026. Dilansir dari jatimpos.co, Kamis, (16/4/2026).

 

“Teman-teman yang ikut pelatihan ini sangat penting. Bahkan lebih penting dari menterinya dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat. Kalian yang jadi ujung tombaknya,” tegas Gus Ipul.

 

 

Ia menjelaskan, pengelola perpustakaan memegang peran strategis dalam menghidupkan fungsi perpustakaan sebagai pusat literasi di Sekolah Rakyat. Tidak hanya sebagai penjaga buku, mereka juga dituntut menjadi penggerak minat baca sekaligus fasilitator pembelajaran.

 

“Perpustakaan harus mampu memotivasi siswa, meningkatkan literasi, dan mendorong tercapainya target pembelajaran,” ujarnya.

 

Menurut Gus Ipul, perpustakaan merupakan jantung literasi sekaligus ruang tumbuh masa depan siswa. Di dalamnya, anak-anak tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga menemukan inspirasi dan harapan untuk memperbaiki masa depan.

 

 

Ia juga menyoroti peran perpustakaan sebagai alat mobilitas sosial bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Selain itu, perpustakaan dapat menjadi ruang aman yang membantu siswa terhindar dari dampak negatif media digital.

 

“Perpustakaan juga membentuk karakter, melatih disiplin, rasa ingin tahu, daya juang, serta kemampuan berpikir kritis,” imbuh Mensos.

 

Gus Ipul pun meminta para peserta pelatihan untuk serius mengikuti kegiatan dan menularkan ilmu yang didapat kepada guru serta tenaga kependidikan lainnya di Sekolah Rakyat.

 

“Ingat, pengelola perpustakaan bukan hanya penjaga buku, tetapi kurator pengetahuan, penggerak literasi, dan penjaga harapan anak bangsa,” tegasnya.

 

 

 

Ke depan, Kementerian Sosial akan menempatkan perpustakaan di bagian depan Sekolah Rakyat sebagai simbol pentingnya literasi. Untuk itu, Kemensos menggandeng Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam penguatan tata kelola dan sumber daya manusia.

 

Kepala Perpusnas RI, Aminudin Aziz, mengapresiasi kolaborasi tersebut. Ia optimistis Sekolah Rakyat dapat menjadi model pendidikan inklusif yang sukses.

 

“Anak-anak dari kelompok termarjinalkan, jika diberi akses bacaan yang baik dan pendampingan yang tepat, bisa berkembang bahkan melampaui rata-rata,” ujarnya.

 

Sepanjang 2025, Perpusnas telah menyalurkan bantuan buku ke 150 Sekolah Rakyat dengan total ratusan ribu eksemplar, mencakup jenjang SD, SMP, hingga SMA.

 

 

Selain itu, program inovatif seperti Gerakan Literasi Sekolah Rakyat akan terus diperkuat, termasuk kegiatan membaca dan meresensi buku.

 

Acara ini turut dihadiri Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono dan Sekjen Kemensos Robben Rico. (ivan)