Guru PAUD Masih “Gamangan” Tangani ABK, Isye Adhy Karyono Turun Tangan Lewat Workshop

pendidikan | 26 April 2026 06:13

Guru PAUD Masih “Gamangan” Tangani ABK, Isye Adhy Karyono Turun Tangan Lewat Workshop
Isye Adhy Karyono saat membuka Workshop Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bagi guru PAUD se-Jawa Timur di Ruang Hayam Wuruk, Kantor Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Surabaya.

SURABAYA, PustakaJC.co – Kesenjangan kompetensi guru PAUD dalam menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) masih jadi persoalan serius. Hal ini mendorong Isye Adhy Karyono membuka Workshop Penanganan ABK bagi guru PAUD se-Jawa Timur di Ruang Hayam Wuruk, Kantor Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Kamis (23/4).

 

Workshop yang digelar oleh Perkumpulan Penyelenggara Pendidikan Anak Usia Dini (DPD PP PAUD) Jatim ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas dan kepercayaan diri guru dalam menghadapi realitas sekolah inklusi.

 

“Bismillahirrahmanirrahim, workshop ini saya nyatakan dibuka,” tegas Isye saat membuka kegiatan.

 

 

Menurutnya, banyak pendidik PAUD masih belum siap secara teknis maupun mental dalam mendampingi ABK di kelas inklusi yang menggabungkan siswa berkebutuhan khusus dan non-ABK dalam satu lingkungan belajar.

 

“Sebagian besar pendidik masih merasa kurang percaya diri karena belum memiliki bekal yang memadai,” ujarnya.

 

Ia menekankan bahwa penanganan ABK tidak bisa disamakan dengan siswa lainnya. Dibutuhkan intervensi dan treatment khusus yang tepat sasaran. Namun, sebelum itu, guru harus mampu melakukan deteksi dini secara akurat.

 

“Kalau deteksinya tepat, maka intervensinya juga akan sesuai dan berdampak,” jelasnya.

 

 

Dalam workshop ini, peserta tidak hanya dibekali teori, tetapi juga praktik menyusun strategi pembelajaran adaptif sesuai kebutuhan masing-masing anak. Tujuannya, agar seluruh pendidik memiliki persepsi yang sama tentang pentingnya pendidikan inklusif sejak usia dini.

 

Isye juga menyoroti bahwa banyak ABK justru memiliki potensi luar biasa jika ditangani dengan tepat. Ia mencontohkan penampilan “Touch Hearth Band” sebagai bukti nyata keberhasilan pendidikan inklusif.

 

“Tidak sedikit ABK memiliki kemampuan lebih. Mereka hanya butuh ruang dan dukungan yang tepat,” katanya.

 

 

 

Di akhir sambutannya, Isye mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan workshop ini secara maksimal agar ilmu yang didapat bisa langsung diterapkan di lembaga masing-masing.

 

“Manfaatkan kesempatan ini untuk menggali pengetahuan sebanyak-banyaknya dan implementasikan dengan sungguh-sungguh,” pungkasnya. (ivan)