SURABAYA, PustakaJC.co – Siswa SMA Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo melakukan kunjungan edukatif ke RS Menur Surabaya sebagai bagian dari program Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan tersebut menjadi sarana pembelajaran langsung mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental sejak usia remaja, Minggu (10/5/2026).
“Kami mendata sejak 2023 jumlah pasien yang menjalani rawat jalan di RS Menur terus meningkat, terutama pada laki-laki,” ujar drg. Vitria Dewi. Demikian dikutip dari radarsurabaya.jawapos.com, Minggu (10/5/2026).
Dalam kunjungan yang berlangsung pada 13 April 2026 itu, para siswa mengamati kondisi pasien anak dan remaja yang tengah menjalani perawatan gangguan kejiwaan di ruang rehabilitasi.
Mereka mendapati sedikitnya sembilan pasien yang dirawat dengan latar belakang masalah beragam, mulai dari kecanduan gim, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga pengalaman menjadi korban perundungan.
Direktur RS Menur Surabaya, drg. Vitria Dewi, mengungkapkan jumlah pasien gangguan mental pada anak dan remaja menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, banyak gangguan mental pada remaja dipicu persoalan di lingkungan keluarga maupun sosial sehingga membutuhkan perhatian serius dari orang tua dan masyarakat.
Salah seorang perawat yang mendampingi kegiatan menjelaskan, sejumlah pasien mengalami depresi dan stres berat akibat konflik keluarga, khususnya KDRT.
Kondisi tersebut kerap memunculkan perilaku emosional seperti mudah marah, mengamuk, hingga kesulitan mengendalikan diri.
Namun suasana ruang rehabilitasi berubah lebih hangat ketika para siswa hadir dan berinteraksi langsung dengan pasien. Melalui permainan sederhana dan percakapan santai, para pasien tampak lebih terbuka dan ceria.
Kehadiran siswa SMA Progresif Bumi Shalawat diharapkan dapat memberikan dukungan moral sekaligus membantu proses pemulihan pasien agar lebih siap kembali ke lingkungan sosial.
Vitria Dewi menegaskan bahwa kesehatan mental merupakan aspek penting yang harus dijaga sejak dini.
“Tidak semua luka terlihat. Ada luka yang disimpan dalam diam, tetapi dampaknya bisa bertahan lama,” pungkasnya.
Kegiatan edukatif ini tidak hanya menambah wawasan siswa mengenai isu kesehatan mental, tetapi juga menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap sesama. (frchn)