Rupiah Tertekan, Ekonom Unair Ingatkan Ancaman Inflasi dan Ketahanan Pangan di Jatim

pendidikan | 03 Juni 2026 08:54

Rupiah Tertekan, Ekonom Unair Ingatkan Ancaman Inflasi dan Ketahanan Pangan di Jatim
Ilustrasi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di layar monitor pasar keuangan. (dok detik)

SURABAYA, PustakaJC.co – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai berpotensi memberi tekanan besar terhadap perekonomian Jawa Timur. Kenaikan biaya impor, terutama untuk bahan baku pakan ternak, dikhawatirkan memicu lonjakan harga sejumlah komoditas pangan dan barang konsumsi.

 

Pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga, Gigih Prihantono, mengatakan sektor peternakan menjadi salah satu yang paling rentan terdampak karena sebagian besar bahan baku pakan masih bergantung pada impor. Dilansir dari detik.com, Rabu, (3/6/2026).

 

Menurutnya, pelemahan rupiah membuat biaya produksi peternak meningkat sehingga berpotensi mengganggu ketahanan pangan daerah. Kondisi tersebut juga dapat memicu kenaikan harga daging ayam, telur, hingga daging sapi yang menjadi kebutuhan utama masyarakat.

 

“Ketika harga pakan naik, maka harga produk peternakan seperti telur, ayam, dan daging sapi juga berpotensi naik sehingga dapat mendorong inflasi,” ujarnya, Selasa, (2/6/2026).

 

 

 

Selain sektor pangan, Gigih menilai barang konsumsi atau end user juga berisiko mengalami kenaikan harga. Produk seperti pakaian, elektronik, suku cadang kendaraan, hingga kendaraan bermotor diperkirakan akan terdampak akibat meningkatnya biaya impor.

 

Ia meminta pemerintah daerah mengantisipasi kondisi tersebut agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan gejolak harga tidak semakin membebani konsumen.

 

Untuk meredam dampak pelemahan rupiah, Gigih mendorong adanya penguatan sistem logistik di Jawa Timur melalui pembangunan pusat pergudangan terintegrasi atau Jatim Hub. Fasilitas tersebut dinilai dapat berfungsi sebagai cadangan pasokan ketika terjadi gejolak ekonomi global maupun kenaikan nilai dolar.

 

“Dengan adanya gudang logistik terpusat, Jawa Timur bisa memiliki stok yang cukup untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga saat terjadi guncangan ekonomi,” jelasnya.

 

 

Di tingkat nasional, ia juga menilai pemerintah perlu meningkatkan efisiensi anggaran, menyederhanakan perizinan usaha, serta memberikan kepastian kepada investor guna menjaga kepercayaan pasar.

 

Gigih mengingatkan bahwa pelemahan rupiah yang terus berlanjut harus menjadi perhatian serius karena dapat berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi, inflasi, dan iklim investasi di Indonesia. (ivan)