Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, menekankan bahwa literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan bertanggung jawab dalam berinteraksi di ruang digital.
“Literasi digital bukan sekadar mampu menggunakan gawai, tetapi kemampuan berpikir kritis, menjaga diri, menghormati orang lain, dan bijak dalam setiap jejak digital,” ujarnya.
Arumi mengingatkan berbagai ancaman yang dapat mengintai anak di dunia maya, seperti perundungan siber, paparan konten negatif, penipuan daring, hingga eksploitasi anak. Karena itu, ia mengajak orang tua untuk membangun komunikasi yang terbuka, menetapkan batas penggunaan gawai, serta menjadi teladan dalam pemanfaatan teknologi.
“Teknologi harus memanusiakan manusia, bukan menukarkan masa kecil anak-anak kita. Mari bersama-sama melindungi anak-anak agar mereka dapat tumbuh dengan sehat, aman, dan bahagia di era digital,” pungkasnya. (ivan)