Arumi Bachsin Ingatkan Orang Tua, Keluarga Jadi Garda Terdepan Lindungi Anak dari Risiko Digital

pendidikan | 08 Juni 2026 07:38

Arumi Bachsin Ingatkan Orang Tua, Keluarga Jadi Garda Terdepan Lindungi Anak dari Risiko Digital
Arumi Bachsin berfoto bersama para peserta usai kegiatan “Bijak Digital, Anak Terlindungi” di Surabaya, Minggu, (7/6/2026). (dok kominfo)

SURABAYA, PustakaJC.co – Ketua TP PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin, menegaskan keluarga memiliki peran paling penting dalam melindungi anak dari berbagai risiko yang muncul akibat pesatnya perkembangan teknologi digital.

 

Pesan tersebut disampaikan Arumi saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan “Bijak Digital, Anak Terlindungi” yang digelar di Surabaya, Minggu, (7/6/2026). Kegiatan ini diikuti ratusan peserta dari berbagai organisasi perempuan, tenaga pendidik, dan pegiat perlindungan anak di Jawa Timur.

 

Menurut Arumi, perkembangan teknologi saat ini berlangsung sangat cepat, bahkan kerap melampaui kemampuan orang tua maupun regulasi dalam mengimbanginya. Karena itu, keluarga harus hadir sebagai pendamping utama bagi anak dalam menggunakan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Senin, (8/6/2026).

 

“Perkembangan teknologi saat ini luar biasa cepat. Kadang-kadang lebih cepat dibandingkan perkembangan aturan maupun kemampuan kita sebagai orang tua untuk mengikutinya. Karena itu, peran keluarga menjadi sangat penting dalam mendampingi anak-anak,” ujarnya.

 

 

Arumi menilai anak-anak yang lahir di era digital memiliki kemampuan beradaptasi dengan teknologi jauh lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya. Kondisi tersebut membuat orang tua tidak boleh lengah dan harus terus meningkatkan pemahaman terhadap perkembangan teknologi.

 

Ia juga memaparkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 yang menunjukkan tingginya penggunaan perangkat digital oleh anak-anak Indonesia. Sebanyak 39,71 persen anak usia dini telah menggunakan telepon seluler dan 35,57 persen telah mengakses internet.

 

“Data ini menjadi alarm bagi kita semua bahwa paparan teknologi terhadap anak terjadi semakin dini. Karena itu, pengawasan dan pendampingan orang tua menjadi sangat penting,” tegasnya.

 

 

Selain itu, Arumi mengutip hasil penelitian Universitas Negeri Surabaya tahun 2024 terhadap 355 siswa SMP yang menunjukkan rata-rata anak menghabiskan waktu sekitar 5,9 jam per hari di depan layar. Sebagian besar penggunaan perangkat digital dilakukan untuk media sosial dan bermain gim, sementara pemanfaatan untuk kegiatan belajar masih relatif rendah.

 

Menurutnya, penggunaan gawai secara berlebihan dapat memicu berbagai dampak negatif, mulai dari gangguan kesehatan fisik, berkurangnya aktivitas sosial, gangguan tidur, hingga masalah emosional pada anak.

 

“Anak-anak terlihat sibuk saat memegang gadget, tetapi secara emosional bisa merasa kesepian karena kurangnya interaksi sosial secara langsung,” katanya.

 

 

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, menekankan bahwa literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan bertanggung jawab dalam berinteraksi di ruang digital.

 

“Literasi digital bukan sekadar mampu menggunakan gawai, tetapi kemampuan berpikir kritis, menjaga diri, menghormati orang lain, dan bijak dalam setiap jejak digital,” ujarnya.

 

Arumi mengingatkan berbagai ancaman yang dapat mengintai anak di dunia maya, seperti perundungan siber, paparan konten negatif, penipuan daring, hingga eksploitasi anak. Karena itu, ia mengajak orang tua untuk membangun komunikasi yang terbuka, menetapkan batas penggunaan gawai, serta menjadi teladan dalam pemanfaatan teknologi.

 

“Teknologi harus memanusiakan manusia, bukan menukarkan masa kecil anak-anak kita. Mari bersama-sama melindungi anak-anak agar mereka dapat tumbuh dengan sehat, aman, dan bahagia di era digital,” pungkasnya. (ivan)