Cegah Bullying, Gus Ipul Minta Murid Sekolah Rakyat Diawasi 24 Jam

pendidikan | 03 September 2026 07:22

Cegah Bullying, Gus Ipul Minta Murid Sekolah Rakyat Diawasi 24 Jam
Gus Ipul saat menggelar Rapat Koordinasi bersama Kepala Sekolah Rakyat se-Indonesia melalui Zoom. (dok jatimpos)

JAKARTA, PustakaJC.co – Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul meminta seluruh kepala Sekolah Rakyat melakukan pengawasan penuh terhadap para murid selama 24 jam. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi di lingkungan sekolah berasrama, Jakarta, Rabu, (2/9/2026).

 

Gus Ipul menyampaikan hal tersebut saat menggelar rapat koordinasi bersama seluruh Kepala Sekolah Rakyat se-Indonesia melalui Zoom.

 

Menurut Gus Ipul, sistem pendidikan Sekolah Rakyat yang berbasis asrama membuat pengawasan terhadap kondisi murid harus dilakukan secara menyeluruh.

 

“Yang pertama yang ingin jadi perhatian kita bersama adalah soal pengawasan. Karena ini boarding school (sekolah berasrama), maka anak-anak harus terawasi selama 24 jam, tanpa kompromi. Upayakan ini menjadi kesadaran dari bapak-ibu sekalian,” kata Gus Ipul, dikutip dari jatimpos.co, Kamis, (3/8/2026).

 

 

Ia mengatakan pengawasan tidak hanya menjadi tanggung jawab kepala sekolah, tetapi dapat dilakukan bersama wali asuh dan wali asrama. Fasilitas kamera pengawas atau CCTV juga dapat dimanfaatkan untuk membantu memantau aktivitas para murid.

 

Gus Ipul menegaskan pengawasan tersebut penting untuk memastikan lingkungan Sekolah Rakyat tetap aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik.

 

Selain pengawasan, Gus Ipul menyampaikan dua hal lain yang harus menjadi perhatian kepala sekolah, yakni kepatuhan terhadap prosedur dan tata kelola serta konsolidasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

 

Dalam hal tata kelola, kepala sekolah diminta memastikan pengelolaan Sekolah Rakyat berjalan sesuai prosedur. Pengelolaan keuangan harus bebas dari praktik korupsi dan konflik kepentingan.

 

Standar pembelajaran maupun pengelolaan asrama juga harus diterapkan secara setara di seluruh Sekolah Rakyat.

 

Sementara dalam aspek konsolidasi, kepala sekolah diminta membangun hubungan baik dengan masyarakat sekitar, pemerintah daerah, serta guru tamu yang mengajar di Sekolah Rakyat.

 

“Sekolah Rakyat berjalan karena kita bergerak bersama. Guru tamu dilibatkan aktif, bukan pelengkap. Jadi guru-guru tamu ini meskipun sifatnya sementara, tapi libatkan dengan penuh, bangun kesadaran dengan para guru tamu itu,” ujarnya.

 

 

Gus Ipul juga meminta pemerintah daerah dilibatkan dalam pengawasan dan dukungan terhadap Sekolah Rakyat, khususnya dalam aspek keamanan, kebersihan, hingga penanganan apabila terjadi kasus.

 

“Pemda dilibatkan dalam pengawasan, perkuat dukungan keamanan, kebersihan, dan penanganan kasus,” tegasnya.

 

Ia menegaskan tiga hal tersebut, yakni pengawasan, kepatuhan, dan kolaborasi, merupakan prinsip yang harus dijalankan seluruh Sekolah Rakyat.

 

“Ini saya titipkan betul kepada para kepala sekolah. Intinya adalah pada pengawasan, kepatuhan, dan kolaborasi. Tiga pilar ini tidak bisa ditawar. Setiap anak berhak pulang dengan masa depan yang lebih baik,” sambung Gus Ipul.

 

Selain itu, Gus Ipul meminta seluruh kepala sekolah mulai bulan depan membuat laporan mengenai kondisi masing-masing peserta didik.

 

Laporan tersebut mencakup kondisi kesehatan, perkembangan mental, serta latar belakang setiap siswa. Menurutnya, data tersebut diperlukan agar sekolah dapat memahami kondisi peserta didik secara lebih menyeluruh.

 

Gus Ipul memberikan waktu satu hingga tiga bulan kepada para kepala sekolah untuk beradaptasi dengan siswa dan lingkungan baru sebelum pelaksanaan program berjalan secara penuh.

 

“Jadi para kepala sekolah silakan ini disampaikan dengan baik. Saya masih memberikan satu kesempatan selama satu sampai tiga bulan kepada para kepala sekolah ini untuk beradaptasi, untuk menyesuaikan diri dengan siswa yang baru, dengan lingkungan yang baru. Setelah itu kita harus take off,” katanya.

 

 

Dalam rapat tersebut, Gus Ipul juga menyoroti kondisi Sekolah Rakyat yang berada di sekitar lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.

 

Salah satunya adalah pembangunan gedung permanen SRT 1 Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, yang lokasinya berdekatan dengan area karhutla.

 

Gus Ipul meminta pihak sekolah memperhatikan kondisi para murid serta terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah.

 

“Mohon untuk koordinasi betul dengan pemerintah daerah. Karena jaraknya juga dekat dengan posisi pembangunan permanen Sekolah Rakyat,” jelasnya.

 

Kepala SRT 1 Kotawaringin Timur Nikkon Bhastari mengatakan asap karhutla berdampak terhadap kondisi gedung sekolah yang berjarak sekitar tiga meter dari lokasi kebakaran.

 

Meski demikian, pihak sekolah tidak memulangkan para siswa ke rumah masing-masing. Keputusan tersebut diambil karena kondisi di luar sekolah dinilai lebih berisiko bagi para murid.

 

“Untuk anak-anak dikondisikan tidak kami pulangkan karena lebih berbahaya ketika pulang daripada di SR. Kalau di SR dekat dengan puskesmas, dekat dengan rumah sakit, fasilitas kami lengkap,” ungkap Nikkon.

 

Ia mengatakan pihak sekolah telah menyiapkan sejumlah fasilitas untuk mengantisipasi dampak asap karhutla terhadap kesehatan siswa.

 

“ Oksigen ada, masker kami sudah terpenuhi, nebulizer juga sudah siap,” katanya.

 

 

Di tengah kondisi tersebut, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung. Namun, kegiatan pembelajaran dipindahkan ke asrama apabila ruang kelas tidak dapat digunakan akibat terdampak asap karhutla.

 

“Tetap kami melakukan pembelajaran. Dimulai dari pukul 8 sampai pukul 9 (pagi). Namun ketika kabut, maka kegiatan pembelajaran (dilakukan) di asrama dibantu oleh guru-guru,” jelas Nikkon. (ivan)