Menurut Monika, kegiatan tersebut juga menjadi jembatan bagi siswa sekolah menengah untuk mengenal ekosistem penelitian di perguruan tinggi, khususnya Ubaya.
Ia menilai, penelitian yang dihasilkan para peserta menunjukkan bahwa generasi muda memiliki kepekaan terhadap berbagai persoalan di lingkungan masyarakat. Bahkan, mereka mulai mampu merumuskan metode pemecahan masalah melalui pendekatan ilmiah dan data yang valid.
“Dengan usia yang masih sangat muda, para peserta sudah dapat menghasilkan metode pemecahan masalah yang bertanggung jawab dan dapat dibuktikan melalui sebuah riset dan data yang valid,” ucapnya.
Ketua Panitia Lomba Peneliti Belia 2026, Yuan Yovita Setiawan, M.Psi., Psikolog, mengatakan kompetisi tersebut diharapkan dapat mendorong keberanian siswa untuk mempertanyakan berbagai fenomena di lingkungan sekitar melalui penelitian.
Menurutnya, proses penelitian dapat membentuk rasa ingin tahu sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis siswa dalam menghasilkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Lomba ini menjadi ruang untuk mengembangkan rasa ingin tahu, berpikir kritis, dan menghasilkan gagasan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Kiranya, semangat Anda tidak berhenti pada kompetisi hari ini, namun terus bertumbuh menjadi budaya berpikir kritis, kreatif, dan berbasis bukti di kalangan generasi muda,” jelasnya.