Dikenal dengan dakwah kulturalnya, Mbah Mutamakkin menyisipkan nilai-nilai Islam dalam cerita rakyat seperti Dewaruci, bahkan menggunakan media wayang suket. Pendekatan ini mampu menyentuh hati masyarakat tanpa benturan.
Ia mendirikan masjid dan pesantren di Kajen bersama mertuanya, Mbah Syamsuddin, lalu mengembangkan pusat pengajaran agama dan kehidupan.
“Beliau itu tidak hanya ngajari ngaji, tapi juga memberdayakan masyarakat – baik sektor perdagangan maupun pertanian,” terang Jamal Ma’mur Asmani, Dosen IPMAFA sekaligus Wakil Ketua PCNU Pati.