SURABAYA, PustakaJC.co - Kabar membanggakan datang dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan pesantren. Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menetapkan tiga tokoh besar NU, yakni Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan Sultan Muhammad Salahuddin sebagai Pahlawan Nasional 2025.
Penetapan ini tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.
Dengan penetapan tersebut, kini total ada 16 tokoh NU yang telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Daftar ini menegaskan peran besar ulama, kiai pesantren, dan kader NU dalam perjuangan kemerdekaan, pendidikan, serta pembentukan moral bangsa.
Berikut 16 tokoh NU yang telah resmi menjadi Pahlawan Nasional:
1. Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan
2. Hadratussyekh KH M. Hasyim Asy’ari
3. KH Zainul Arifin
4. KH Abdul Wahid Hasyim
5. KH Zainal Musthafa
6. KH Idham Chalid
7. KH Abdul Wahab Chasbullah
8. KH As’ad Syamsul Arifin
9. KH Syam’un
10. KH Masjkur
11. Andi Mappanyukki
12. Andi Djemma
13. Usmar Ismail
14. KH Abdul Chalim Leuwimunding
15. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
16. Sultan Muhammad Salahuddin
Dalam unggahan resmi akun @nuonline_id, NU menegaskan bahwa bertambahnya jumlah tokoh dari kalangan pesantren yang mendapatkan gelar pahlawan adalah bukti bahwa perjuangan kaum santri dan ulama telah diakui negara secara historis.
“Pahlawan dari kalangan NU dan pesantren bertambah,” tulis keterangan di unggahan NU Online yang menampilkan foto keenam belas tokoh tersebut.
Syaikhona Kholil sendiri dikenal sebagai guru para kiai pendiri NU, termasuk KH Hasyim Asy’ari. Dari pesantrennya di Bangkalan, Madura, lahirlah banyak ulama yang kemudian menjadi motor gerakan Islam moderat di Indonesia.
Sementara itu, Gus Dur dikenang bukan hanya sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia, tetapi juga simbol toleransi dan pluralisme. Gelar Pahlawan Nasional yang diterimanya menegaskan warisan pemikiran dan perjuangannya dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Sultan Muhammad Salahuddin dari Bima, yang juga tokoh NU, dikenal karena perjuangannya melawan kolonialisme Belanda di Nusa Tenggara. Ia menegakkan keadilan dan membangun tata pemerintahan yang berpihak pada rakyat.
Penganugerahan ini menambah daftar panjang tokoh-tokoh pesantren yang jasanya diakui secara nasional. NU menilai bahwa semangat perjuangan para pahlawan tersebut harus diteruskan melalui pendidikan, kebudayaan, dan dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin.
“Penghargaan ini bukan hanya untuk mengenang, tapi juga untuk meneladani,” tulis keterangan NU Online dalam unggahan yang kini viral di media sosial, dengan ribuan komentar penuh apresiasi dari warganet.
Dengan bertambahnya deretan tokoh NU bergelar Pahlawan Nasional, semangat perjuangan dan keulamaan mereka diharapkan dapat menjadi inspirasi generasi muda, terutama kalangan santri dan warga pesantren, untuk terus menjaga nilai-nilai kebangsaan dan keislaman yang damai. (int)