SURAKARTA, PustakaJC.co – KH Ahmad Chalid Mawardi merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah kaderisasi Nahdlatul Ulama (NU). Ia dikenal sebagai kader pendiri NU, sekaligus pendiri Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Perannya menjembatani tradisi pesantren dengan dunia intelektual modern meninggalkan jejak kuat hingga hari ini.
Chalid Mawardi lahir di Surakarta pada 11 September 1936 dari keluarga ulama pergerakan. Ayahnya, Kiai Mawardi, aktif di Sarekat Islam, sementara ibunya, Nyai Hj Mahmudah Mawardi, merupakan tokoh Muslimat NU yang juga terpilih sebagai anggota DPR hasil Pemilu 1955. Lingkungan keluarga inilah yang membentuk Chalid sejak kecil dalam tradisi keilmuan, organisasi, dan kebangsaan. Dilansir dari nuonline.or.id, Sabtu, (30/1/2026).
Pendidikan agamanya diperoleh dari sang ibu dan kakeknya, KH Masyhud, ulama NU terpandang di Solo. Sementara pendidikan formal ia tempuh hingga SMA di Surakarta, sebelum melanjutkan studi ke Universitas Indonesia dan Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta. Sejak usia muda, Chalid dikenal aktif membaca, menulis, dan berorganisasi.
Pada 1953, Chalid terlibat langsung dalam pendirian IPNU Surakarta, yang kemudian berkontribusi besar dalam proses kelahiran IPNU secara nasional melalui Konferensi Besar LP Ma’arif NU di Semarang pada 1954. Meski namanya kerap luput dalam catatan resmi sejarah IPNU, Chalid hadir dan ikut menyampaikan gagasan strategis tentang pentingnya wadah pelajar NU sebagai basis kader.