Sementara itu, Baduy Luar yang kini berkembang menjadi sekitar 60 hingga 70 kampung memiliki kelonggaran adat. Mereka mengenakan ikat kepala biru atau hitam yang disebut lomar, baju jamang kampret, serta celana poleng dengan warna lebih beragam. Dalam beberapa hal, Baduy Luar juga diperbolehkan menggunakan tenaga surya.
Kepercayaan yang dianut masyarakat Baduy adalah Sunda Wiwitan. Sistem pendidikan berlangsung secara informal dalam keluarga. Anak perempuan dibimbing ibu, sedangkan anak laki-laki dibimbing ayah.
“Tidak ada sekolah formal, dan anak usia di atas 10 tahun mulai dibimbing oleh jarok atau lurah,” terang Idong.