Dalam bidang ekonomi, masyarakat Baduy menggantungkan hidup pada pertanian. Mereka menanam padi setahun sekali, serta sayur-mayur, kencur, timun, dan durian lokal sebagai hasil tambahan. Untuk wilayah Baduy Luar, sistem transaksi sudah menggunakan mata uang.
Di bidang kesehatan, warga masih mengandalkan ramuan alami dan tabib adat. Berobat ke rumah sakit diperbolehkan, namun harus melalui tabib terlebih dahulu. Sementara dalam tradisi pernikahan, mahar hanya berupa daun sirih sebagai simbol kesederhanaan. Pernikahan biasanya dilakukan pada usia muda, perempuan sekitar 14–15 tahun dan laki-laki 17–20 tahun.
Di balik kesederhanaan itu, Idong meyakini hidup yang menyatu dengan alam membawa keberkahan tersendiri.
“Kehidupan kami menyatu dengan alam. Umur orang sini bisa panjang, ada yang sampai 120 tahunan,”pungkasnya. (ivan)