SURABAYA, PustakaJC.co – Di tengah gempuran modernisasi dan teknologi digital, Idong (39), warga Baduy Dalam, tetap teguh menjaga warisan adat leluhur di wilayah Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten. Baginya, adat bukan sekadar tradisi, melainkan pedoman hidup yang tak boleh dilanggar.
“Dulu kami sebenarnya disebut orang Kanekes. Namun saat penjajah datang disebutlah Suku Baduy,”ujar Idong kepada dikutip dari gresiksatu.com, Senin, (9/2/2026).
Idong merupakan bagian dari komunitas Baduy Dalam, kelompok inti masyarakat adat yang hanya terdiri dari tiga kampung: Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Jumlah kampung tersebut tidak boleh bertambah maupun berkurang karena sudah menjadi ketetapan adat.
Sebagai warga Baduy Dalam, Idong menjalani kehidupan tanpa listrik dan tanpa teknologi modern. Penerangan rumah masih menggunakan lampu minyak, dan aktivitas sehari-hari dilakukan secara tradisional.
“Kalau Baduy Dalam tidak ada listrik, penerangan pakai minyak. Ini kepercayaan adat atau leluhur,”tegasnya.
Secara penampilan, perbedaan Baduy Dalam dan Baduy Luar cukup mencolok. Idong menjelaskan, warga Baduy Dalam mengenakan pakaian putih dan hitam dengan ikat kepala putih yang disebut telekung. Busana mereka berupa jamang kurung dari kapas tanpa kancing, dipadukan dengan sarung kain aros.
Sementara itu, Baduy Luar yang kini berkembang menjadi sekitar 60 hingga 70 kampung memiliki kelonggaran adat. Mereka mengenakan ikat kepala biru atau hitam yang disebut lomar, baju jamang kampret, serta celana poleng dengan warna lebih beragam. Dalam beberapa hal, Baduy Luar juga diperbolehkan menggunakan tenaga surya.
Kepercayaan yang dianut masyarakat Baduy adalah Sunda Wiwitan. Sistem pendidikan berlangsung secara informal dalam keluarga. Anak perempuan dibimbing ibu, sedangkan anak laki-laki dibimbing ayah.
“Tidak ada sekolah formal, dan anak usia di atas 10 tahun mulai dibimbing oleh jarok atau lurah,” terang Idong.
Dalam bidang ekonomi, masyarakat Baduy menggantungkan hidup pada pertanian. Mereka menanam padi setahun sekali, serta sayur-mayur, kencur, timun, dan durian lokal sebagai hasil tambahan. Untuk wilayah Baduy Luar, sistem transaksi sudah menggunakan mata uang.
Di bidang kesehatan, warga masih mengandalkan ramuan alami dan tabib adat. Berobat ke rumah sakit diperbolehkan, namun harus melalui tabib terlebih dahulu. Sementara dalam tradisi pernikahan, mahar hanya berupa daun sirih sebagai simbol kesederhanaan. Pernikahan biasanya dilakukan pada usia muda, perempuan sekitar 14–15 tahun dan laki-laki 17–20 tahun.
Di balik kesederhanaan itu, Idong meyakini hidup yang menyatu dengan alam membawa keberkahan tersendiri.
“Kehidupan kami menyatu dengan alam. Umur orang sini bisa panjang, ada yang sampai 120 tahunan,”pungkasnya. (ivan)